( Menata Ulang Peran Pendeta dan Menghidupkan Kolegialitas Majelis Jemaat )
Salom Semuanya….. Kita tidak sedang kekurangan aturan. Tata pranata GKJW sudah cukup jelas, termasuk mengenai Pelayan Harian Majelis Jemaat (PHMJ). Namun persoalan kita hari ini bukan pada teks aturan, melainkan pada praktik kepemimpinan yang menyimpang dari semangatnya.
Dengan jujur harus kita akui: Di banyak jemaat, telah terjadi pergeseran dari kepemimpinan kolegial menjadi kepemimpinan yang terpusat pada Pendeta. Ini bukan sekadar kesan, tetapi realitas yang dirasakan oleh banyak majelis dan jemaat.
Fakta yang Tidak Bisa Disangkal Dalam praktik di lapangan, sering terjadi: Pendeta menjadi pusat hampir semua keputusan PHMJ berjalan mengikuti arah satu figur Majelis kehilangan daya kritis dan keberanian Keputusan diambil cepat, tetapi minim partisipasi Akibatnya: Majelis Jemaat yang seharusnya menjadi pemegang otoritas bersama berubah menjadi pelengkap formal. Jika ini terus dibiarkan, maka kita sedang merawat kepemimpinan yang tidak sehat secara eklesiologis.
Penyimpangan dari Semangat Alkitab Dalam terang iman Kristen, kepemimpinan gereja tidak pernah dimaksudkan untuk terpusat pada satu orang. Yesus sendiri menegaskan: Pemimpin adalah pelayan Yang terbesar adalah yang melayani Namun yang terjadi: Jabatan Pendeta sering dipahami sebagai otoritas struktural tertinggi Bukan sebagai pelayanan rohani yang membangun tubuh Kristus Ini adalah pergeseran serius: dari spiritual leadership menjadi power-centered leadership
Masalah Sistemik, Bukan Sekadar Personal Kita tidak boleh berhenti pada menyalahkan individu Pendeta. Masalah ini muncul karena: a. Struktur yang Memberi Ruang Dominasi Penempatan Pendeta sebagai Ketua PHMJ, tanpa mekanisme kontrol yang kuat, membuka peluang: sentralisasi keputusan dominasi tafsir pengaruh berlebihan dalam organisasi b. Budaya Feodal dalam Gereja Masih ada anggapan: Pendeta tidak boleh dikritik Pendeta selalu benar Majelis harus “nrimo” Padahal: Gereja bukan kerajaan, dan Pendeta bukan raja. c. Kelemahan Pemberdayaan Majelis Banyak majelis: tidak dibekali cukup secara teologis tidak percaya diri dalam mengambil sikap akhirnya hanya mengikuti arus
Dampak Nyata yang Sedang Terjadi Jika pola ini terus berlangsung, dampaknya sangat serius: Jemaat menjadi pasif dan tidak merasa memiliki gereja Keputusan kehilangan legitimasi moral Konflik tersimpan dan meledak diam-diam Generasi muda menjauh karena tidak melihat keterbukaan Dan yang paling berbahaya: Gereja tetap berjalan secara organisasi, tetapi kehilangan roh persekutuan.
Sikap Profetis yang Harus Diambil, kita harus berani mengoreksi diri, lebih terbuka Kita juga harus berani dan perlu keberanian untuk mengatakan: Dominasi Pendeta dalam kepemimpinan jemaat bukanlah kehendak Kristus.
Arah Pembaruan yang Konkret ✅ 1. Reposisi Tegas Peran Pendeta Pendeta harus dikembalikan pada fungsi: pemimpin rohani pengajar firman pembina iman Bukan sebagai: pengendali organisasi pusat semua keputusan ✅ 2. Penguatan Kolegialitas Majelis ( Majelis perlu wawasan kepemimpinan yang sehat ) Keputusan harus benar-benar melalui musyawarah Semua anggota memiliki suara yang setara Tidak ada dominasi satu pihak ✅ 3. Mekanisme Kontrol yang Sehat Evaluasi kinerja PHMJ secara berkala Ruang kritik yang aman dan terbuka Transparansi dalam keputusan dan keuangan ✅ 4. Perubahan Budaya Gereja Dari: takut → berani bertanggung jawab sungkan → terbuka dan jujur pasif → partisipatif
Penegasan Akhir Sekarang kita Kita harus berani memilih: tetap nyaman dengan pola lama ATAU berani berubah demi kesehatan gereja Karena jika tidak: Kita sedang mewariskan gereja yang kuat secara struktur, tetapi rapuh secara spiritual.
Kiranya kita kembali pada teladan Kristus— yang memimpin tanpa menguasai, yang berkuasa tanpa menindas, dan yang melayani tanpa mencari kedudukan.
“Jika hari ini kita tidak berani mengoreksi cara kita memimpin, maka besok kita akan menuai gereja yang kehilangan arah. Dan saat itu terjadi, yang kita pertahankan bukan lagi pelayanan, tetapi hanya kekuasaan yang dibungkus rohani.”
Trimakasih,…dan salam satu patinggilan…Gusti Yesus Amberkahi
Bacaan: Yohanes 11:1–45 1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. 2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. 3 Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.” 4 Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” 5 Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. 6 Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; 7 tetapi sesudah itu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Mari kita kembali lagi ke Yudea.” 8 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Rabi, baru-baru ini orang-orang Yahudi mencoba melempari Engkau, masih maukah Engkau kembali ke sana?” 9 Jawab Yesus: “Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? Siapa yang berjalan pada siang hari, kakinya tidak terantuk, karena ia melihat terang dunia ini. 10 Tetapi jikalau seorang berjalan pada malam hari, kakinya terantuk, karena terang tidak ada di dalam dirinya.” 11 Demikianlah perkataan-Nya, dan sesudah itu Ia berkata kepada mereka: “Lazarus, saudara kita, telah tertidur, tetapi Aku pergi ke sana untuk membangunkan dia dari tidurnya.” 12 Maka kata murid-murid itu kepada-Nya: “Tuhan, jikalau ia tertidur, ia akan sembuh.” 13 Tetapi maksud Yesus ialah tertidur dalam arti mati, sedangkan sangka mereka Yesus berkata tentang tertidur dalam arti biasa. 14 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; 15 tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” 16 Lalu Tomas, yang disebut Didimus, berkata kepada teman-temannya, yaitu murid-murid yang lain: “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” 17 Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur. 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. 21 Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati. 22 Tetapi sekarang pun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.” 23 Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.” 24 Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.” 25 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, 26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” 27 Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.” 28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.” 29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus. 30 Tetapi waktu itu Yesus belum sampai ke dalam kampung itu. Ia masih berada di tempat Marta menjumpai Dia. 31 Ketika orang-orang Yahudi yang bersama-sama dengan Maria di rumah itu untuk menghiburnya, melihat bahwa Maria segera bangkit dan pergi ke luar, mereka mengikutinya, karena mereka menyangka bahwa ia pergi ke kubur untuk meratap di situ. 32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” 33 Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: 34 “Di manakah dia kamu baringkan?” Jawab mereka: “Tuhan, marilah dan lihatlah!” 35 Maka menangislah Yesus. 36 Kata orang-orang Yahudi: “Lihatlah, betapa kasih-Nya kepadanya!” 37 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” 38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. 39 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” 40 Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” 41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. 42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” 43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” 44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.” 45 Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.
RENUNGAN
Salam damai sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, setiap manusia pernah mengalami masa jatuh, lemah, bahkan seperti mati harapan. Ada orang yang kehilangan semangat hidup, kehilangan orang yang dikasihi, kehilangan pekerjaan, atau merasa hidupnya tidak berarti lagi. Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak meninggalkan kita dalam keadaan itu. Tuhan merengkuh kita dan membangkitkan kita. Kisah tentang Lazarus dalam Yohanes 11 menunjukkan kasih dan kuasa Tuhan yang luar biasa.
Tuhan Merengkuh Kita Dalam Penderitaan Ketika Lazarus sakit, Maria dan Marta mengirim kabar kepada Yesus. Namun yang menarik, Yesus tidak langsung datang. Bahkan Lazarus akhirnya meninggal. Ketika Yesus tiba, Marta berkata: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.” Ini adalah ungkapan hati yang terluka. Saudara-saudara, kadang kita juga seperti Marta. Kita berkata dalam hati: “Tuhan, mengapa Engkau terlambat?” “Tuhan, mengapa ini terjadi?” Tetapi firman Tuhan menunjukkan sesuatu yang sangat indah: Yesus menangis. Yesus ikut merasakan kesedihan manusia. Ini berarti Tuhan merengkuh penderitaan kita. Tuhan tidak jauh dari air mata kita. Tuhan hadir dalam luka kita. Mazmur berkata: Tuhan itu dekat kepada orang yang patah hati.
Tuhan Datang Membawa Harapan Ketika Marta berkata bahwa Lazarus akan bangkit pada akhir zaman, Yesus menjawab: “Akulah kebangkitan dan hidup.” Artinya kebangkitan bukan hanya peristiwa di masa depan. Kebangkitan hadir dalam diri Yesus. Ketika Yesus hadir, harapan juga hadir. Saudara-saudara, mungkin hari ini ada yang merasa: hidup terasa berat doa seperti tidak dijawab masa depan terasa gelap Tetapi ingatlah: Selama Yesus ada, harapan tidak pernah mati.
Tuhan Membangkitkan Apa Yang Sudah Mati Ketika Yesus datang ke kubur Lazarus, Ia berkata: “Lazarus, marilah keluar!” Dan Lazarus yang sudah empat hari mati keluar dari kubur. Ini bukan hanya mukjizat fisik. Ini juga gambaran kehidupan rohani manusia. Ada banyak orang yang sebenarnya hidup tetapi seperti mati: mati semangat mati kasih mati iman mati pengharapan Namun ketika Yesus memanggil, kehidupan baru terjadi. Yesus juga berkata: “Bukalah kain kafannya dan biarkan ia pergi.” Artinya Tuhan tidak hanya membangkitkan, tetapi juga membebaskan manusia dari ikatan lama.
Kita Dipanggil Menjadi Alat Kebangkitan Yesus memerintahkan orang-orang di sekitar Lazarus untuk membuka kain kafannya. Artinya Tuhan juga memakai manusia untuk menolong sesama bangkit kembali. Kadang yang membuat seseorang bangkit adalah: kata penguatan perhatian kecil doa kehadiran kita
Sebagai orang percaya kita semua di pnggil untuk merengkuh orang yang jatuh
Saudara-saudara ku yang dikasihi Tuhan, Firman hari ini benar benar mengajarkan tiga hal:
Tuhan merengkuh kita dalam penderitaan.
Tuhan menghadirkan harapan dalam keputusasaan.
Tuhan membangkitkan kehidupan yang sudah mati.Mungkin hari ini ada yang merasa hidupnya seperti Lazarus di dalam kubur. Tetapi ingatlah: Ketika Tuhan memanggil, kubur tidak bisa menahan kehidupan. Karena itu percayalah: Tuhan merengkuh kita… dan Tuhan akan membangkitkan kita. Amin.
“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”
Dipanggil untuk di berkati
Shalom, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Hari ini kita akan merenungkan satu kebenaran yang luar biasa dari firman Tuhan, yaitu tentang “Anugerah yang Tak Berkesudahan.” Di tengah dunia yang penuh dengan perubahan, kegagalan, dan ketidakpastian, kita bersyukur karena kita memiliki Allah yang penuh kasih karunia—dan kasih karunia itu tidak pernah habis, bahkan selalu baru setiap pagi. Mungkin kita pernah merasa gagal, jatuh dalam dosa, atau bahkan merasa jauh dari Tuhan. Tetapi hari ini kita akan diingatkan bahwa anugerah Tuhan tidak tergantung pada siapa kita, tapi pada siapa Dia—Tuhan yang setia dan penuh kasih. (Ratapan 3:22) “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN…” Ratapan ditulis oleh nabi Yeremia dalam masa penuh penderitaan, kehancuran Yerusalem, dan penawanan bangsa Yehuda. Tapi di tengah kesedihan itu, Yeremia bisa berseru bahwa kasih setia Tuhan tidak berkesudahan. Saudara, anugerah Tuhan tidak bergantung pada situasi. Meskipun kita mengalami masa sulit, anugerah-Nya tetap bekerja. Tidak ada masa sulit yang bisa menghentikan aliran kasih karunia-Nya. Contoh praktis: Kita mungkin telah membuat kesalahan besar dalam hidup kita, tapi anugerah Tuhan lebih besar dari kegagalan kita. Dunia bisa menolak kita, tapi Tuhan tidak pernah menyerah atas kita. (Ratapan 3:23) “…selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Setiap pagi adalah simbol kesempatan baru. Tidak peduli seberapa buruk hari kemarin, Tuhan menyediakan anugerah baru hari ini. Anugerah Tuhan bukan hanya untuk keselamatan di masa lalu, tetapi juga untuk kekuatan menghadapi hari ini dan harapan untuk masa depan. Pagi ini, Tuhan memberi kita nafas kehidupan—itu anugerah. Kita masih bisa mendengar firman-Nya—itu juga anugerah. Masih ada kesempatan untuk bertobat, memulai kembali, dan hidup benar di hadapan-Nya. (Efesus 2:8-9) “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Keselamatan adalah anugerah terbesar yang Tuhan berikan. Kita tidak bisa mendapatkannya karena perbuatan baik, tapi karena kasih karunia-Nya. Dan bukan hanya menyelamatkan kita dari hukuman dosa, tapi anugerah-Nya juga memulihkan hidup kita. Contoh : Bayangkan seorang anak yang jatuh ke dalam lumpur. Dia tidak bisa membersihkan dirinya sendiri. Tapi ayahnya datang, mengangkatnya, membersihkannya, memeluknya. Itulah yang Tuhan lakukan—bukan hanya menyelamatkan, tapi juga memulihkan. Saudara ku semua yang di kasihi dan di berkati Tuhan, hari ini Tuhan mau mengingatkan kita bahwa:
Anugerah-Nya tak pernah habis, meskipun dunia berubah.
Anugerah-Nya baru setiap pagi, selalu tersedia bagi kita.
Anugerah-Nya menyelamatkan dan memulihkan. Jangan biarkan rasa bersalah, kegagalan, atau kesulitan hidup membuat kita menjauh dari Tuhan. Datanglah kembali kepada-Nya. Anugerah-Nya masih tersedia. Masih cukup. Masih bekerja. Sekarang dan selama lamanya. Amien
Shalom, saudara-saudara yang dikasihi Tuhan. Hari ini kita akan merenungkan Firman Tuhan dari Injil Lukas 15:1–10. Teks ini berisi dua perumpamaan Yesus: tentang domba yang hilang dan dirham yang hilang. Kedua perumpamaan ini menyingkapkan hati Allah yang penuh kasih, yang rela mencari yang hilang dan bersukacita besar ketika yang hilang itu ditemukan.
Yesus menceritakan perumpamaan ini kepada orang Farisi dan ahli Taurat yang bersungut-sungut karena Ia mau bergaul dengan orang berdosa. Yesus ingin menunjukkan bahwa anugerah Allah lebih besar daripada penghakiman manusia.
Allah Mencari yang Hilang (ay. 4, 8)
Seorang gembala rela meninggalkan 99 domba untuk mencari 1 yang hilang.
Seorang perempuan menyalakan pelita dan menyapu rumah hanya untuk mencari 1 dirham. 👉 Ini menunjukkan Allah tidak rela seorang pun binasa. Kasih-Nya pribadi, bukan massal. Setiap jiwa berharga di mata Tuhan.
Allah Tidak Menyerah (ay. 4b, 8b)
Gembala itu mencari sampai ketemu.
Perempuan itu terus mencari sampai menemukan. 👉 Begitu juga Allah: Ia sabar, Ia terus mengetuk pintu hati manusia, Ia memakai berbagai cara agar kita kembali.
Sukacita di Surga (ay. 6-7, 9-10)
Saat domba ditemukan, gembala mengajak sahabatnya bersukacita.
Saat dirham ditemukan, perempuan itu mengundang tetangganya bersukacita.
Yesus berkata: “Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat.” 👉 Pertobatan bukan hanya mengubah hidup manusia, tapi juga mendatangkan pesta sukacita di surga.
Karena itu janganlah Kita merasa terlalu jauh dari Tuhan. Kalau kita jatuh dalam dosa, ingatlah bahwa Tuhan tetap mencari dan rindu memulihkan kita.
Jangan menghakimi orang berdosa. Tugas kita bukan mengucilkan, tetapi membagikan kasih dan anugerah Allah.
Mari menjadi mitra Allah dalam mencari yang hilang. Kita dipanggil untuk memberitakan Injil, mendoakan, dan merangkul orang yang tersesat supaya mereka mengalami anugerah Kristus.
Saudaraku semua yang di kasihi Tuhan, kasih karunia Allah selalu lebih besar daripada dosa kita. Seperti gembala yang mencari domba, seperti perempuan yang mencari dirham, demikianlah Allah mencari setiap kita dengan penuh kasih. Dan ketika kita kembali kepada-Nya, surga bersukacita!
Kiranya kita hidup sebagai umat yang bersyukur atas anugerah itu dan setia membawa kabar sukacita bagi mereka yang hilang, supaya nama Tuhan dimuliakan. Tuhan Yesus memberkati. Amien.
Bacaan Lukas 5:1-11 hi 1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. 4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” 5 Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” 6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. 8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” 9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.
Umat yang di berkati Tuhan, Minggu ini adalah Minggu yang sangat luar biasa, kita bisa satu kata, berkumpul di rumah Tuhan ini. Thema kotbah Minggu ini di beri judul “Dipanggil untuk di berkati dan memberkati’ dengan bacaan dari Injil Lukas 5:-11 yang beperikup ” Penjala ikan menjadi Penjala manusia”
Saudara, dalam bacaan kita hari ini di ceritakan, Yesus yang kita kenal Tuhan, kala itu sedang berdiri di pantai Genesaret, yang sedang di kerimuni orang banyak, ingin mendengarkan firman Tuhan. Yesus melihat banyak nelayan yang sedang membersihkan jalanya, lalu Dia naik ke salah satu perahu yang kosong, yaitu milik Simon petrus. Kemudian Tuhan Yesus memerintahkan Simon agar perahunya sedilit di bawa agak menjauh dari pantai.
Kemudian setelah berkotbah, Yesus berkata kepada Simon, Simon sini kau, bawa perahu dan jalamu ketempat yang dalam dan tebarkan jalamu di sana, apa kata Simon, Simon seakan tidak percaya, dan berkata, Guru semalaman kami bekerja keras mencari ikan disini, keliling disini tapi kami tidak mendapatkan apa apa, akan tetapi kalau guru yang menyuruh baiklah aku lakukan itu, apa yang terjadi saudara setelah jala di tebarkan ternyata banyak ikan yang didapat, sampai sampai dua perahu penuh iman bahkan hampir tenggelam perahunya karena kebanyakan ikan, ini luar biasa saudara, setelah melihat yang demikian ini, Simon Petrus tersyungkur di hadapan Yesus dan berkata, Guru tolong tinggalkan aku, karena aku tidak pantas mengikuti engkau, aku ini orang berdosa, kata son. Akan tetapi Yesus berkata, jangan takut, mulai saat ini engkau akan menjala manusia.
Saudara yang berbahagia, sebagai orang kristen, rasanya kita ini setiap Minggu pergi kegereja,.untuk beribadah mendengarkan firman Tuhan, betul….to… Akan tetapi juga tidak jarang kita senantiasa menelan pil pahit kehidupan, tidak jarang kita di peradaban pada suatu kenyataan hidup yang sungguh sangat pahit dan sangat mengecewakan…..betul apa tidak….. Padahal kita sudah rajin kegereja rajin berpelayanan. kalau sudah seperti ini apakah hidup kita bahagia..??..
Saudara, kepuasan dalam hidup, kebahagiaan dalam hidup…itu tergantung pada siapa…????.. tergantung pada Tuhan, ataukah justru tergantung pada diri kita sendiri….
Tuhan Yesus dalam kotbahnya di atas bukit dengan jelas dan gamblang siapa yang layak di sebut bahagia dalam hidupnya. ( Mat 5:1-12 )
Kalau kita hayati dan renungkan dengan baik, sebenarnya hidup ini sederhana, untuk mencapai kepuasan dan kebahagiaan hidup ini. Semua tergantung pada diri kita sendiri. Pad hati dan pikiran kita. Janganlah hidup ini kita jalani dengan berdasarkan sebuah ke inginan…. Karena keinginan sampai kapanpun tdk akan bisa memuaskan kehidupan manusia. Marilah hidup ini Kita jalani dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan. Karena hanya dengan bersyukur kepada Tuhan hidup kita menjadi damai dan tenang. Kita harus bersyukur, karena apapun yang terjadi dalam hidup ini, ternyata tuhan masih tetap setia dan terus memberkati kita.
Bapak ibu yang berbahagia, hari ini kita semua wajib bersyukur, sebab tuhan sedang dan telah memanggil kita semua untuk diberkati dan menjadi berkat bagi yang lain. Marilah panggilan itu kita terima dengan lapang dada dan penuh rasa syukur, agar setiap langkah kaki tangan dan karya pikiran kita boleh menjadi berkat yang bisa memuaskan dan membahagiakan hidup kita.
Bahwa Simon Petrus dan kawan kawan, semalam suntuk mereka bekerja keras menjala ikan di danau Genesaret..tapi mereka tdk mendapatkan apa apa….kita bisa bayangkan, kerja keras, bukan sekedar bekerja…ini membuktikan, bahwa bekerja sekeras apapun yang dilakukan manusia, semua itu akan sia sia bila tuhan tidak berkenan. Akan tetapi apa yang terjadi, setelah Simon Petrus, Yohanes dan yakubus mendengarkan firman tuhan dan itu diyakini di imani serta dilakukannya dengan baik dan benar berkat Tuhan sungguh sangat melimpah,.. kenyataannya mereka mendapatkan banyak tangkapan ikan..bahkan dua perahu penuh dengan ikan Serasa tidak muat bahkan hampir tenggelam.
Hari ini kita semua yakin to, bahwa kita telah menerima banyak berkat dari Tuhan sesuai dengan talenta dan pekerjaan kita masing masing… Sesuai dengan tugas dan panggilan kita masing masing biarlah diri kita juga boleh menjadi berkat bagi yang lain. Berkat tidak harus berupa materi saudara..karena materi tidak bisa dipakai tolak ukur untuk membuat hidup ini damai dan sejahtera….
Saudara sekarang marilah kita fokus pada tugas dan panggilan kita masing masing, menjalankan tugas dan panggilan kita sesuai dengan talenta kita masing masing.. Tuhan Yesus memberkati.Amien.
Bacaan dari Yesaya 46 : 1 – 4 1 Dewa Bel sudah ditundukkan, dewa Nebo sudah direbahkan, patung-patungnya sudah diangkut di atas binatang, di atas hewan; yang pernah kamu arak, sekarang telah dimuatkan sebagai beban pada binatang yang lelah, 2 yang tidak dapat menyelamatkan bebannya itu. Dewa-dewa itu bersama-sama direbahkan dan ditundukkan dan mereka sendiri harus pergi sebagai tawanan. 3 “Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. 4 Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.
Selamat sore bapak ibu para adiyuswo yang sangat saya hormati, gimana kabarnya hari ini……….
Ya….usia beloh tua tapi iman dan keyakinan tetap,..Yesus Tuhan adalah pilihan kita bersama …Amien.. bapak dan ibu…..terima kasih….
Sore hari ini mari kita bersama sama belajar, merenungkan dan memahami kehendak tuhan,…bacaan kita pada sore hari ini kami ambil dari perjanjian lama, yaitu dari Yesaya 46 ayat 1 sampai dengan ayat 4. Dan ayat natsnya kami ambil dari ayat 4 demikian ” Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.
Para adiyuawo yang di kasihi dan di berkati oleh Tuhan, dari awal sebenarnya orang orang israel itu menyadari,.bahwa di luar dirinya itu ada sebuah kekuatan yang kekuatannya sungguh luar biasa, dari semula orang Israel itu, sebenarnya menyadari bahwa diluar dirinya ada sebuah kekuatan yang dianggapnya mampu menolong dirinya dari kesesakan hidup yang di alami….
Karena itulah mereka terus berusaha dan berjuang keras untuk mendapatkan kekuatan itu…dengan mengandalkan kemampuan intelektualnya pribadi, tanpa mengandalkan Tuhan. Sehingga mereka terus berimajinasi, menghayal untuk mewujudkan sebuah kekuatan yang dianggapnya mampu menolong hidupnya. Dan imajinasi atau hayalan itu diwujutnatakan dalam berbagai macam bentuk, dan pada akhirnya mereka membuat patung untuk mewujudkan imajinasinya itu, dan patung itu di puja, di sembah layaknya dewa, karena di anggapnya patung itu mempunyai sebuah kekuatan goip, yang mampu menolong hidupnya…..
Para adiyuswo yang di kasihi oleh Tuhan, bacaan kita hari ini….menceritakan, betapa malangnya bangsa Israel kala itu, betapa sedihnya bangsa Israel kala itu,…. Yang telah mempercayakan hidup dan kehidupannya, pada dewa dan patung patung yang di buatnya sebdiri. Yang pada kenyataannya para dewa itu telah di tundukan, patung patung itu diangkut, di araknya, ditaruh di atas hewan sebagai beban, di atas binatang yang lelah yang tidak mampu menyelamatkan beban itu sendiri… Yang pada akhirnya dewa dan patung patung itu di tundukan dan direbahkan… Lalu mereka pergi dengan sendirinya sebagai tawanan….
Melihat keadaan bangsa Israel seperti itu, Tuhan Allah berfirman…… ( ayat 3 dan 4 )
3 “Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. 4 Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.
Para adiyuswo yang berbahagia, firman Tuhan hari ini sebenarnya juga mengingatkan kepada kita semua,…agar kita tidak lagi menyembah berhalawa, agar kita tidak lagi membanggakan barang barang duniawi milik kita, yang kenyataannya tidak pernah bisa membantu dan menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Kita jangan bangga dengan apa yang kita miliki, tapi banggalah dengan siapa yang telah memberi apa yang telah kita miliki…..
Saudaraku para lansia yang di berkati Tuhan… Sebenarnya hari ini kita patut berbangga hati dan bersyukur punya Tuhan Yesus,.. yang tidak pernah sedikitpun meninggalkan kita, sampai memutih rambut kita Tuhan Allah di dalam diri Tuhan kita Yesus, terus dan tak kan pernah berhenti memberkati, menggendong dan menuntun kita sampai selama lamanya….Tuhan memberkati….Amien .
Manajemen gereja memainkan peran penting dalam berfungsinya organisasi keagamaan secara efektif. Hal ini mencakup berbagai aspek seperti visi dan misi , pengembangan kepemimpinan , pengelolaan keuangan , pembangunan komunitas , pelayanan ibadah , dan tugas administrasi . Dengan menerapkan strategi pengelolaan gereja yang efektif, lembaga keagamaan dapat mendorong pertumbuhan, keterlibatan, dan keharmonisan dalam jemaatnya. Artikel ini akan memberikan tip dan wawasan berharga mengenai bidang-bidang utama manajemen gereja, termasuk menetapkan visi dan misi yang jelas , mengembangkan kepemimpinan yang efektif , mengelola keuangan gereja , membangun dan melibatkan komunitas gereja , merencanakan dan melaksanakan layanan dan program ibadah , dan memastikan gereja yang efisien. administrasi .
Poin utama:
Menetapkan visi dan misi yang jelas sangat penting untuk pengelolaan gereja yang efektif. Ini membantu memandu pengambilan keputusan dan menyatukan jemaat.
Mengembangkan kepemimpinan yang efektif sangat penting bagi pertumbuhan dan keberhasilan gereja. Mengidentifikasi dan membina pemimpin, memberikan pelatihan, dan membangun tim yang kuat adalah aspek kuncinya.
Mengelola keuangan gereja secara bertanggung jawab penting untuk stabilitas dan transparansi keuangan. Penganggaran, praktik pengelolaan, dan akuntabilitas sangat penting dalam aspek ini.
Membangun komunitas gereja yang ramah dan inklusif akan mendorong keterlibatan dan pertumbuhan. Komunikasi yang efektif, penjangkauan masyarakat, dan menciptakan lingkungan yang ramah sangatlah penting.
Merencanakan dan melaksanakan layanan dan program ibadah yang bermakna meningkatkan pengalaman rohani anggota gereja. Mengembangkan jadwal yang komprehensif, mengatur layanan yang menarik, dan acara yang berdampak berkontribusi terhadap hal ini.
Memastikan administrasi gereja yang efisien melalui sistem dan proses yang efektif diperlukan untuk kelancaran operasional. Mengelola fasilitas, mematuhi persyaratan hukum, dan memelihara sumber daya yang sesuai merupakan aspek kunci dari hal ini.
Menetapkan Visi dan Misi Gereja
Menetapkan visi dan misi gereja sangatlah penting untuk memandu aktivitasnya dan memastikan keberhasilannya. Berikut beberapa langkah penting yang perlu dipertimbangkan:
Tentukan tujuannya: Mulailah dengan mendefinisikan secara jelas tujuan gereja Anda. Apa nilai inti dan keyakinannya? Apa alasan keberadaannya? Hal ini akan membantu membentuk visi dan misi gereja.
Ciptakan pernyataan visi: Susunlah pernyataan singkat dan inspiratif yang mencerminkan aspirasi jangka panjang gereja. Pernyataan ini harus secara jelas menggambarkan apa yang ingin dicapai gereja di masa depan.
Kembangkan pernyataan misi: Pernyataan misi menguraikan tindakan dan tujuan spesifik yang akan dilakukan gereja untuk memenuhi visinya. Hal ini harus dapat ditindaklanjuti dan ringkas, dengan fokus pada bidang-bidang utama pelayanan dan pelayanan.
Libatkan jemaat: Libatkan seluruh jemaat dalam proses penetapan visi dan misi. Mintalah masukan dan umpan balik mereka untuk memastikan bahwa pernyataan tersebut mewakili aspirasi kolektif komunitas gereja.
Komunikasikan dan kunjungi kembali: Komunikasikan visi dan misi secara rutin kepada jemaah, dengan memanfaatkan berbagai saluran seperti khotbah, buletin, dan media sosial. Tinjau kembali dan evaluasi pernyataan-pernyataan ini secara konsisten untuk memastikan pernyataan-pernyataan tersebut tetap relevan dalam lanskap gereja yang terus berkembang.
Sebuah kisah nyata yang dengan indah memberikan contoh pentingnya menetapkan visi dan misi yang jelas adalah kisah sebuah gereja kecil di komunitas pedesaan. Para pemimpin gereja meluangkan waktu untuk melibatkan jemaat dalam menentukan tujuan mereka, membuat pernyataan visi, dan mengembangkan pernyataan misi. Arahan jelas yang diberikan oleh pernyataan-pernyataan ini membantu gereja untuk memfokuskan upaya mereka dalam melayani komunitas mereka, yang mengarah pada program penjangkauan yang bermakna, peningkatan kehadiran, dan rasa persatuan yang lebih kuat di antara jemaat. Dengan menyelaraskan aktivitas mereka dengan visi dan misi, gereja mampu memberikan dampak positif dan mengalami pertumbuhan baik dalam keanggotaan maupun pengaruh.
Apa pentingnya mendefinisikan visi dan misi?
Pentingnya mendefinisikan visi dan misi dalam manajemen gereja tidak dapat dilebih-lebihkan. Arah dan tujuan yang jelas ini berfungsi sebagai cahaya penuntun dan memberikan rasa identitas serta kesatuan dalam komunitas gereja .
Persatuan : Visi dan misi yang jelas membantu menyelaraskan anggota gereja menuju tujuan bersama. Hal ini menumbuhkan rasa persatuan dan solidaritas di antara jemaat, memungkinkan mereka untuk bekerja sama menuju tujuan bersama.
Arah : Pernyataan visi dan misi memberikan arah yang jelas bagi gereja. Dokumen ini menguraikan aspirasi dan tujuan gereja, membantu memandu proses pengambilan keputusan dan memprioritaskan kegiatan dan inisiatif.
Motivasi : Ketika visi dan misi gereja dirumuskan dengan baik, hal itu akan menanamkan motivasi dan tujuan dalam jemaat. Hal ini memberi mereka sesuatu untuk diperjuangkan dan mengingatkan mereka akan dampak lebih besar yang dapat mereka berikan pada komunitas mereka dan sekitarnya.
Fokus : Mendefinisikan visi dan misi membantu menjaga gereja tetap fokus pada nilai-nilai inti dan keyakinannya. Hal ini berfungsi sebagai titik referensi, yang memungkinkan gereja untuk tetap setia pada identitasnya dan mencegah gangguan yang menyimpang dari tujuannya.
Pertumbuhan : Pernyataan visi dan misi yang jelas dapat menarik anggota dan pendukung baru ke dalam gereja. Hal ini memberi mereka gambaran sekilas tentang apa yang diperjuangkan gereja dan apa yang dapat mereka harapkan. Hal ini dapat menyebabkan pertumbuhan dan perluasan komunitas gereja.
Bagaimana cara membuat pernyataan visi yang jelas dan menarik?
Untuk membuat pernyataan visi yang jelas dan menarik bagi gereja Anda, ikuti langkah-langkah berikut:
Mulailah dengan memahami tujuan dan misi gereja Anda. Apa tujuan akhir dan nilai-nilai apa yang dijunjung gereja Anda? Mengidentifikasi tujuan akan meletakkan dasar untuk menciptakan pernyataan visi yang berdampak dan dapat diterima oleh semua orang yang terlibat.
Melibatkan anggota kunci jemaat Anda, pemimpin, dan pemangku kepentingan lainnya dalam proses ini sangatlah penting. Masukan dan perspektif mereka dapat membentuk visi secara signifikan, memastikan bahwa visi tersebut selaras dengan harapan dan aspirasi kolektif komunitas Anda.
Bayangkan masa depan yang ingin Anda ciptakan untuk gereja Anda. Pertimbangkan dampak yang ingin Anda buat dalam komunitas dan bagaimana Anda memvisualisasikan gereja Anda bertumbuh dan berkembang. Langkah ini akan membantu Anda menyusun visi yang menginspirasi dan berpikiran maju .
Susunlah pernyataan visi yang ringkas, jelas, dan inspiratif . Gunakan bahasa yang kuat dan positif untuk menyampaikan aspirasi dan nilai-nilai gereja Anda. Dengan melakukan hal ini, Anda dapat secara efektif mengomunikasikan masa depan yang diinginkan dan membangkitkan antusiasme di antara jemaat Anda.
Pastikan pernyataan visi Anda selaras dengan nilai-nilai inti gereja Anda. Hal ini harus mencerminkan keyakinan dan prinsip yang memandu komunitas Anda, memberikan kerangka kerja untuk pengambilan keputusan dan tindakan.
Setelah Anda membuat pernyataan visi, komunikasikan secara luas di dalam jemaat Anda. Secara teratur perkuat dan ingatkan orang-orang akan visi tersebut agar tetap menjadi yang terdepan dalam pikiran mereka. Dengan membagikannya kepada komunitas Anda, Anda memperkuat rasa persatuan dan tujuan.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, Anda dapat membuat pernyataan visi yang jelas dan menarik yang menginspirasi dan membimbing gereja Anda menuju tujuan masa depan. Ingat, pernyataan visi yang kuat dapat memberikan arahan dan kesatuan bagi jemaat Anda serta membantu mendorong perubahan dan pertumbuhan yang berarti.
Menyelaraskan visi dan misi dengan nilai-nilai gereja
sangat penting bagi pengelolaan gereja yang efektif. Hal ini memastikan bahwa tujuan dan sasaran gereja sejalan dengan keyakinan dan prinsip inti. Dengan menyelaraskan visi dan misi dengan nilai-nilai gereja, maka kepemimpinan dapat menginspirasi dan memotivasi jemaat menuju tujuan bersama.
Untuk menyelaraskan visi dan misi dengan nilai-nilai gereja, pertama-tama penting untuk memiliki pemahaman yang jelas tentang nilai-nilai gereja . Nilai-nilai ini merupakan prinsip-prinsip panduan yang mendefinisikan identitas gereja dan keyakinannya. Setelah nilai-nilai diidentifikasi, pernyataan visi dan misi dapat disusun untuk mencerminkan nilai-nilai tersebut dan mengkomunikasikan tujuan gereja kepada jemaat dan masyarakat.
Pernyataan visi harus menarik dan menginspirasi , memberikan gambaran masa depan yang ingin dicapai gereja. Hal ini harus selaras dengan nilai-nilai gereja, dengan menekankan keyakinan dan prinsip inti. Pernyataan misi, sebaliknya, harus menguraikan tindakan dan strategi spesifik yang akan dilakukan gereja untuk memenuhi visinya. Hal ini juga harus mencerminkan nilai-nilai gereja dan memandu pengambilan keputusan dan alokasi sumber daya.
Ketika visi dan misi diselaraskan dengan nilai-nilai gereja, maka akan tercipta rasa persatuan dan tujuan di antara jemaat. Hal ini membantu membangun kepercayaan dan keyakinan pada kepemimpinan serta mendorong partisipasi dan keterlibatan aktif. Hal ini juga memastikan bahwa tindakan dan inisiatif gereja konsisten dengan keyakinan dan prinsip-prinsipnya.
Menyelaraskan visi dan misi dengan nilai-nilai gereja sangat penting untuk pengelolaan gereja yang efektif. Hal ini menciptakan landasan yang kuat untuk pengambilan keputusan, menginspirasi jemaat , dan memupuk kesatuan dan tujuan dalam komunitas gereja.
12 September 2021
Mengembangkan Kepemimpinan yang Efektif
Mengembangkan Kepemimpinan yang Efektif adalah kunci keberhasilan manajemen gereja. Pada bagian ini, kita akan mengungkap strategi dan teknik untuk membina pemimpin dalam komunitas gereja, menawarkan pelatihan dan pengembangan berkelanjutan untuk meningkatkan keterampilan mereka. Kita akan mengeksplorasi pentingnya membangun tim yang efektif dan bagaimana hal itu berkontribusi pada gereja yang berkembang dan bersatu. Bersiaplah untuk membuka potensi kepemimpinan gereja Anda dan meningkatkan organisasi Anda ke tingkat yang lebih tinggi.
Mengidentifikasi dan membina para pemimpin gereja
Mengidentifikasi dan membina para pemimpin gereja merupakan aspek penting dari manajemen gereja yang efektif. Berikut beberapa langkah penting yang perlu dipertimbangkan:
Kenali calon pemimpin: Amati anggota jemaat yang menunjukkan sifat-sifat seperti kesetiaan, integritas, komitmen, dan hati yang melayani. Carilah individu yang menunjukkan kesediaan untuk mengambil inisiatif dan memiliki semangat untuk melayani gereja.
Memberikan pelatihan kepemimpinan: Setelah calon pemimpin diidentifikasi, penting untuk berinvestasi dalam pengembangan mereka. Tawarkan program pelatihan kepemimpinan, lokakarya, dan peluang pendampingan untuk membantu mereka bertumbuh dalam keterampilan, pengetahuan, dan pemahaman tentang peran mereka sebagai pemimpin gereja.
Mendorong keterlibatan aktif: Mendorong calon pemimpin untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai pelayanan dan kegiatan di dalam gereja. Pengalaman langsung ini akan membekali mereka dengan keterampilan praktis dan wawasan yang penting untuk kepemimpinan yang efektif.
Ciptakan jalur kepemimpinan: Tetapkan jalur yang jelas untuk kemajuan kepemimpinan di dalam gereja. Hal ini dapat mencakup peran seperti pemimpin kelompok kecil, koordinator pelayanan, atau anggota dewan gereja. Dengan memberikan kesempatan ini, Anda memupuk budaya pengembangan kepemimpinan.
Menawarkan dukungan dan bimbingan: Memelihara para pemimpin gereja juga melibatkan pemberian dukungan dan bimbingan yang berkelanjutan. Hubungi mereka secara teratur, berikan dorongan, dan sediakan sumber daya serta alat untuk membantu mereka berhasil dalam peran mereka. Hal ini dapat mencakup pertemuan rutin, retret kepemimpinan, atau akses ke sumber daya online.
Sebuah kisah nyata yang menggambarkan pentingnya mengidentifikasi dan membina para pemimpin gereja adalah tentang sebuah gereja kecil di pinggiran kota. Pendeta memperhatikan seorang anggota muda jemaat yang menunjukkan semangat yang kuat untuk memimpin ibadah. Melalui bimbingan dan pelatihan, individu ini mengembangkan bakat musiknya dan akhirnya menjadi pemimpin ibadah di gereja. Kisah ini menunjukkan bagaimana berinvestasi pada potensi anggota gereja dapat menuntun pada pertumbuhan dan perkembangan pemimpin yang efektif dalam komunitas gereja.
Memberikan pelatihan dan pengembangan kepemimpinan berkelanjutan
Memberikan pelatihan dan pengembangan kepemimpinan yang berkelanjutan sangat penting bagi pertumbuhan dan keberhasilan gereja mana pun. Berikut adalah beberapa pertimbangan utama yang perlu diingat:
Identifikasi kebutuhan kepemimpinan spesifik dalam komunitas gereja Anda. Menilai keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan yang akan membantu pemimpin memenuhi peran mereka secara efektif.
Rancanglah program pelatihan komprehensif yang menjawab kebutuhan ini. Ini mungkin termasuk lokakarya, seminar, program mentoring, atau kursus online.
Berkolaborasilah dengan para pemimpin berpengalaman di gereja Anda atau carilah bimbingan profesional untuk mengembangkan dan menyampaikan konten pelatihan yang relevan.
Pastikan program pelatihan dapat diakses dan inklusif, mengakomodasi gaya dan preferensi pembelajaran yang berbeda.
Evaluasi efektivitas program pelatihan secara berkala dengan mengumpulkan umpan balik dari peserta dan mengukur dampak pelatihan terhadap kompetensi dan kepercayaan diri kepemimpinan.
Berikan dukungan dan sumber daya berkelanjutan kepada para pemimpin saat mereka menerapkan apa yang telah mereka pelajari dalam peran mereka.
Kembangkan budaya pembelajaran dan pengembangan berkelanjutan dengan mendorong para pemimpin untuk mengejar peluang pelatihan tambahan, menghadiri konferensi, dan terlibat dalam kegiatan pembelajaran sejawat.
Memiliki fokus yang kuat pada pelatihan dan pengembangan kepemimpinan tidak hanya meningkatkan keterampilan dan kemampuan masing-masing pemimpin tetapi juga meningkatkan pertumbuhan dan efektivitas gereja secara keseluruhan.
Menerapkan strategi untuk membangun tim yang efektif
Menerapkan strategi untuk membangun tim yang efektif sangat penting untuk menciptakan komunitas gereja yang kohesif dan produktif . Berikut beberapa strategi penting untuk dipertimbangkan:
Tentukan dengan jelas peran dan tanggung jawab dalam tim. Setiap anggota harus memiliki pemahaman yang jelas tentang tugas mereka dan bagaimana mereka berkontribusi terhadap tujuan tim secara keseluruhan.
Mendorong komunikasi yang terbuka dan efektif . Dorong anggota tim untuk berbagi ide, kekhawatiran, dan umpan balik mereka secara terbuka dan jujur. Hal ini menciptakan budaya kepercayaan dan kolaborasi.
Menumbuhkan rasa persatuan dan kepemilikan . Ciptakan aktivitas membangun tim dan peluang bagi anggota tim untuk mengenal satu sama lain dengan lebih baik. Hal ini dapat mencakup retret, acara sosial, atau latihan membangun tim yang meningkatkan kepercayaan dan kerja sama.
Mendorong keberagaman dan inklusi . Kenali dan rangkul keberagaman dalam tim Anda. Mendorong perspektif, ide, dan kekuatan yang berbeda untuk dihargai dan dirayakan.
Tetapkan tujuan dan sasaran yang jelas . Pastikan tim memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan yang ingin mereka capai. Ini membantu menjaga semua orang tetap fokus dan termotivasi.
Memberikan dukungan dan pengembangan berkelanjutan . Menawarkan kesempatan pelatihan dan pengembangan bagi anggota tim untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka. Hal ini tidak hanya membantu mereka berkembang secara individu tetapi juga bermanfaat bagi tim secara keseluruhan.
Mengakui dan merayakan pencapaian . Mengakui dan menghargai kontribusi dan pencapaian anggota tim. Hal ini menumbuhkan lingkungan yang positif dan memotivasi.
Menyelesaikan konflik secara efektif . Atasi konflik dan perselisihan dalam tim dengan cara yang tepat waktu dan penuh hormat. Dorong dialog terbuka dan temukan solusi yang cocok untuk semua orang.
Mendorong kerja sama tim dan kolaborasi . Menumbuhkan budaya di mana kerja sama tim dihargai dan didorong. Ciptakan peluang bagi anggota tim untuk berkolaborasi dan bekerja sama menuju tujuan bersama.
Mengelola Keuangan Gereja
Temukan kunci sukses pengelolaan gereja di bidang keuangan. Pada bagian ini, kita akan mengungkap rahasia pengelolaan keuangan gereja dengan mengeksplorasi topik-topik seperti pembuatan anggaran, penatalayanan yang efektif, dan memastikan transparansi. Bersiaplah untuk menyelami dunia perencanaan keuangan, praktik penatalayanan, dan menjaga akuntabilitas dalam aspek penting administrasi gereja ini. Jadi, mari kita temukan strategi dan prinsip yang akan memberdayakan gereja Anda untuk berkembang secara finansial.
Membuat anggaran dan perencanaan keuangan
Membuat anggaran dan perencanaan keuangan merupakan aspek penting dari manajemen gereja yang efektif. Hal ini membantu memastikan alokasi sumber daya yang tepat dan memungkinkan gereja memenuhi misi dan visinya sambil tetap bertanggung jawab secara finansial.
Berikut adalah beberapa langkah penting yang perlu dipertimbangkan ketika membuat anggaran dan perencanaan keuangan untuk gereja Anda:
Menilai situasi keuangan saat ini: Mulailah dengan meninjau catatan keuangan gereja dan menganalisis pendapatan dan pengeluaran. Ini akan memberi Anda pemahaman yang jelas tentang kesehatan keuangan gereja dan membantu mengidentifikasi bidang-bidang yang memerlukan perbaikan.
Tetapkan tujuan keuangan: Tentukan tujuan keuangan gereja untuk tahun mendatang atau periode tertentu. Tujuan-tujuan ini mungkin termasuk mendanai program-program tertentu, memelihara fasilitas gereja, atau mendukung inisiatif penjangkauan masyarakat.
Buat anggaran yang komprehensif: Kembangkan anggaran terperinci yang mencakup semua sumber pendapatan dan pengeluaran yang diantisipasi. Kategorikan pengeluaran ke dalam berbagai bidang seperti gaji, utilitas, pemeliharaan fasilitas, penjangkauan, dan program pelayanan. Alokasikan dana berdasarkan prioritas dan pastikan pengeluaran selaras dengan misi dan visi gereja.
Libatkan pemangku kepentingan utama: Libatkan para pemimpin, staf, dan anggota gereja dalam proses penganggaran. Carilah masukan dari individu atau komite yang berbeda untuk memastikan adanya perspektif yang beragam dan rasa kepemilikan terhadap anggaran. Hal ini akan meningkatkan transparansi dan akuntabilitas.
Pertimbangkan potensi tantangan: Antisipasi potensi tantangan atau risiko keuangan yang dapat mempengaruhi anggaran. Hal ini mungkin termasuk perubahan sumber pendapatan, pengeluaran tak terduga, atau fluktuasi ekonomi. Kembangkan strategi untuk memitigasi tantangan ini dan memastikan stabilitas keuangan.
Pantau dan sesuaikan: Tinjau anggaran secara teratur dan lacak pendapatan dan pengeluaran. Bandingkan kinerja keuangan aktual dengan jumlah yang dianggarkan dan lakukan penyesuaian seperlunya. Ini akan membantu menjaga disiplin keuangan dan membuat keputusan yang tepat sepanjang tahun.
Ingat, proses perencanaan anggaran dan keuangan yang direncanakan dengan cermat dapat memberikan landasan yang kokoh bagi pengelolaan keuangan gereja dan membantu menyelaraskan sumber dayanya dengan misi dan visinya.
A
Di sebuah gereja komunitas kecil, tim kepemimpinan menyadari perlunya gedung baru untuk mengakomodasi pertumbuhan jemaat. Membuat anggaran dan perencanaan keuangan menjadi penting untuk mewujudkan impian tersebut. Gereja melibatkan jemaat dalam proses penganggaran yang transparan dan inklusif, serta meminta masukan dan dukungan mereka.
Melalui perencanaan keuangan yang cermat, gereja menetapkan tujuan yang realistis untuk mengumpulkan 80% dana yang dibutuhkan melalui kontribusi anggota gereja dan memulai berbagai acara penggalangan dana dan kampanye untuk menjembatani kesenjangan yang tersisa. Pembaruan berkala mengenai kemajuan upaya penggalangan dana diberikan kepada jemaah untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas.
Kerja keras dan komitmen tersebut membuahkan hasil ketika gereja berhasil mengumpulkan dana yang dibutuhkan sesuai jangka waktu yang direncanakan. Dengan anggaran yang tersedia, pembangunan dimulai, dan gedung gereja baru menjadi simbol persatuan, pertumbuhan, dan pemenuhan misi gereja.
Menerapkan praktik penatalayanan dan persepuluhan yang efektif
dalam sebuah gereja sangat penting untuk stabilitas keuangan dan pemenuhan misinya. Berikut beberapa strategi yang perlu dipertimbangkan:
1. Mendidik jemaat: Memberikan pengajaran yang jelas dan komprehensif mengenai prinsip-prinsip alkitabiah tentang penatalayanan dan persepuluhan. Tekankan pentingnya memberi kembali kepada Tuhan dan bagaimana hal itu mendukung pelayanan gereja.
2. Memimpin dengan memberi contoh: Kepemimpinan gereja harus memberikan contoh penatalayanan yang setia dengan memprioritaskan pemberian dan persepuluhan bagi diri mereka sendiri. Hal ini menunjukkan komitmen dan integritas pengelolaan keuangan gereja.
3. Komunikasikan dampaknya: Secara teratur berbagi cerita dan informasi terkini tentang bagaimana persepuluhan dan persembahan digunakan untuk mendukung misi dan inisiatif gereja. Tunjukkan secara transparan kepada jemaat bagaimana kontribusi mereka membawa perubahan.
4. Memberikan opsi pemberian yang nyaman: Tawarkan berbagai metode pemberian seperti platform online, aplikasi seluler, atau transfer dana elektronik. Permudahlah anggota untuk berkontribusi secara teratur, bahkan ketika mereka tidak dapat menghadiri kebaktian secara fisik.
5. Mendorong pemberian secara proporsional: Ajarkan konsep pemberian secara proporsional, dorong individu untuk memberikan persentase dari pendapatan mereka dan bukan jumlah yang tetap. Hal ini memungkinkan setiap orang untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuannya.
6. Menumbuhkan budaya bersyukur: Secara rutin mengungkapkan rasa terima kasih kepada jemaat atas kesetiaannya dalam memberi. Akui dan rayakan pencapaian atau pencapaian dalam mencapai tujuan keuangan gereja.
7. Akuntabilitas dan transparansi: Menetapkan kebijakan dan prosedur keuangan yang jelas untuk memastikan penanganan dan alokasi dana yang tepat. Berikan laporan keuangan secara teratur kepada jemaat agar mereka dapat melihat bagaimana sumbangan mereka dikelola.
Menerapkan praktik penatalayanan dan persepuluhan yang efektif akan memperkuat kesehatan keuangan gereja, memungkinkan gereja untuk memperluas pelayanannya dan memberikan dampak pada lebih banyak kehidupan. Dengan mengedepankan pengelolaan keuangan yang baik dan memupuk budaya kemurahan hati, gereja dapat memenuhi misinya dan memberikan pengaruh positif kepada masyarakat.
Fakta: Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh National Association of Evangelicals, gereja-gereja yang menganut pendidikan penatalayanan dan fokus pada pembangunan budaya kemurahan hati meningkatkan keseluruhan pemberian mereka rata-rata 10 hingga 15 persen.
Menjamin transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan
Memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan sangat penting untuk pengelolaan gereja yang efektif. Berikut beberapa praktik penting yang harus diikuti:
1. Memelihara catatan keuangan yang akurat: Penting untuk menyimpan catatan rinci tentang semua transaksi dan pengeluaran keuangan. Ini termasuk dokumentasi yang tepat mengenai sumbangan, pendapatan, pengeluaran, dan laporan keuangan apa pun yang dihasilkan. Menyimpan catatan yang terorganisir membantu memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan dan mempermudah penyampaian informasi keuangan kepada pemangku kepentingan.
2. Melakukan audit rutin: Audit internal rutin harus dilakukan untuk memastikan kepatuhan keuangan dan mendeteksi adanya ketidaksesuaian atau potensi penipuan. Audit ini harus dilakukan oleh auditor yang independen dan berkualifikasi untuk memberikan penilaian yang tidak memihak terhadap praktik keuangan gereja dan memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan.
3. Menerapkan pengendalian internal yang kuat: Menerapkan pengendalian internal yang kuat membantu menjaga keuangan gereja dan meminimalkan risiko salah urus atau penipuan. Hal ini dapat mencakup prosedur seperti pemisahan tugas keuangan, memerlukan otorisasi yang tepat untuk transaksi keuangan, dan menerapkan checks and balances untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan.
4. Memberikan transparansi keuangan kepada pemangku kepentingan: Anggota Gereja dan donor hendaknya memiliki akses terhadap informasi keuangan untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan dan memastikan akuntabilitas. Hal ini dapat dicapai dengan menyediakan laporan keuangan rutin, mengadakan tinjauan anggaran tahunan, dan melakukan diskusi terbuka tentang kesehatan keuangan gereja.
5. Melibatkan komite keuangan: Membentuk komite keuangan yang terdiri dari individu-individu dengan keahlian keuangan dapat membantu mengawasi dan memastikan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan dan memastikan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan. Komite ini dapat meninjau laporan keuangan, memberikan rekomendasi, dan membantu memantau praktik keuangan gereja untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan.
Dengan mengikuti praktik-praktik ini, gereja dapat memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan, mendapatkan kepercayaan dan keyakinan dari anggota dan pemangku kepentingannya.
Membangun dan Melibatkan Komunitas Gereja
Membangun dan melibatkan komunitas gereja adalah aspek penting dari manajemen gereja yang efektif. Temukan rahasia untuk menciptakan lingkungan yang hangat dan inklusif, menerapkan strategi komunikasi yang efektif, dan mengorganisir inisiatif penjangkauan komunitas yang berdampak. Temukan tips praktis, yang didukung oleh contoh dan statistik dunia nyata, yang akan membantu Anda memperkuat ikatan dalam komunitas gereja Anda dan menumbuhkan rasa memiliki bagi semua orang. Inilah waktunya untuk membawa manajemen gereja Anda ke tingkat berikutnya dan menciptakan keluarga gereja yang dinamis dan terlibat.
Menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif
Menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif sangat penting bagi komunitas gereja yang efektif. Berikut adalah beberapa faktor utama yang perlu dipertimbangkan:
Suasana terbuka dan bersahabat: Pastikan setiap orang yang memasuki gereja merasa disambut dan diterima. Doronglah anggota untuk menyapa pendatang baru dan memberikan informasi tentang kegiatan dan layanan gereja untuk membantu mereka merasa lebih nyaman.
Bahasa dan praktik yang inklusif: Perhatikan bahasa yang digunakan selama kebaktian dan acara untuk menghindari pengucilan atau pengucilan individu atau kelompok mana pun. Mendorong keberagaman dan inklusi dengan merayakan budaya, tradisi, dan perspektif yang berbeda dalam komunitas gereja.
Aksesibilitas: Pastikan lingkungan fisik gereja dapat diakses oleh penyandang disabilitas. Ini termasuk menyediakan jalur landai, lift, dan tempat parkir khusus. Pertimbangkan untuk menawarkan materi dalam format berbeda (misalnya, cetakan besar, braille) untuk mengakomodasi beragam kebutuhan.
Kelompok dan pelayanan pendukung: Ciptakan kelompok atau pelayanan dukungan yang menangani kebutuhan spesifik dalam komunitas gereja, seperti penjangkauan terhadap kelompok marginal, layanan konseling, atau program untuk individu dengan kebutuhan khusus.
Komunikasi yang jelas: Kembangkan strategi komunikasi yang efektif agar anggota tetap mendapat informasi tentang kegiatan, acara, dan peluang keterlibatan gereja. Memanfaatkan berbagai saluran, seperti buletin, media sosial, dan pengumuman selama kebaktian.
Menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif memerlukan upaya berkelanjutan dan komitmen tulus untuk merangkul keberagaman dan memupuk rasa memiliki. Dengan menerapkan praktik-praktik ini, gereja Anda dapat menjadi tempat di mana setiap orang merasa dihargai dan diterima, sehingga meningkatkan pengalaman keseluruhan bagi seluruh anggota komunitas.
Menerapkan strategi komunikasi dan keterlibatan yang efektif
Menerapkan strategi komunikasi dan keterlibatan yang efektif sangat penting bagi keberhasilan manajemen gereja.
1. Memanfaatkan berbagai saluran komunikasi untuk menjangkau seluruh jamaah. Hal ini dapat mencakup buletin email, platform media sosial, papan buletin gereja, dan pengumuman selama kebaktian.
2. Ciptakan kerangka penyampaian pesan yang konsisten dan jelas untuk memastikan bahwa informasi penting dikomunikasikan secara akurat. Kembangkan rencana komunikasi yang menguraikan frekuensi dan isi komunikasi kepada berbagai kelompok dalam komunitas gereja.
3. Menumbuhkan komunikasi yang terbuka dan transparan dengan mendorong adanya umpan balik dan memberikan kesempatan untuk berdiskusi. Hal ini dapat dilakukan melalui pertemuan balai kota, sesi kelompok kecil, atau bahkan forum online di mana para anggota dapat berbagi pemikiran dan keprihatinan mereka.
4. Mengembangkan strategi keterlibatan untuk melibatkan seluruh anggota secara aktif dalam kegiatan gereja. Mendorong partisipasi dalam komite, peluang menjadi sukarelawan, dan inisiatif penjangkauan komunitas. Berikan informasi terkini secara berkala mengenai dampak kegiatan ini untuk menumbuhkan rasa bangga dan keterhubungan di dalam jemaat.
5. Gunakan teknologi secara efektif untuk meningkatkan komunikasi dan keterlibatan. Pertimbangkan untuk menerapkan perangkat lunak manajemen gereja yang memungkinkan pendaftaran acara online, pelacakan donasi, dan akses direktori anggota. Memanfaatkan platform streaming langsung dan konferensi video untuk terhubung dengan anggota yang tidak dapat menghadiri layanan secara langsung.
6. Melatih para pemimpin gereja dan relawan mengenai teknik komunikasi yang efektif. Hal ini dapat mencakup keterampilan mendengarkan secara aktif, strategi penyelesaian konflik, dan komunikasi empati.
Dengan menerapkan strategi komunikasi dan keterlibatan yang efektif ini , gereja dapat menumbuhkan rasa kebersamaan yang kuat, meningkatkan keterlibatan anggota, dan menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua.
Mengorganisir inisiatif penjangkauan dan layanan masyarakat
Mengorganisir inisiatif penjangkauan dan pelayanan komunitas di gereja adalah cara penting untuk terhubung dengan komunitas lokal dan memberikan dukungan. Berikut langkah-langkah untuk mengatur inisiatif ini secara efektif:
Identifikasi kebutuhan: Lakukan penelitian dan libatkan anggota masyarakat untuk memahami kebutuhan dan tantangan spesifik mereka. Hal ini akan membantu dalam menentukan area fokus untuk inisiatif penjangkauan dan layanan.
Bentuklah sebuah komite: Bentuklah sebuah komite khusus di dalam gereja yang akan bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan kegiatan penjangkauan komunitas. Komite ini harus terdiri dari individu-individu yang antusias dan bersemangat untuk memberikan dampak positif.
Mengembangkan rencana: Berdasarkan kebutuhan yang teridentifikasi, kembangkan rencana rinci yang menguraikan tujuan, kegiatan, dan sumber daya yang diperlukan untuk setiap kegiatan penjangkauan. Tetapkan target spesifik untuk mengukur keberhasilan inisiatif.
Memobilisasi relawan: Jangkau anggota gereja dan dorong mereka untuk menjadi sukarelawan dalam acara penjangkauan komunitas. Tetapkan peran dan tanggung jawab khusus kepada setiap sukarelawan berdasarkan keterampilan dan minat mereka.
Membangun kemitraan: Berkolaborasi dengan organisasi lokal, organisasi nirlaba, dan tokoh masyarakat untuk menciptakan kemitraan yang bermakna. Hal ini dapat membantu dalam memanfaatkan sumber daya, berbagi keahlian, dan menjangkau khalayak yang lebih luas.
Mempromosikan inisiatif: Memanfaatkan berbagai saluran komunikasi untuk mempromosikan acara penjangkauan masyarakat. Hal ini dapat mencakup media sosial, buletin gereja, papan pengumuman komunitas, dan informasi dari mulut ke mulut. Komunikasikan dengan jelas tujuan, tanggal, waktu, dan lokasi setiap acara.
Jalankan acara: Pada hari acara penjangkauan, pastikan semua logistik tersedia. Ciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif bagi para peserta. Berikan instruksi yang jelas kepada relawan dan koordinasikan setiap kegiatan secara efektif.
Evaluasi dan tingkatkan: Setelah setiap acara penjangkauan masyarakat, evaluasi dampaknya dan kumpulkan umpan balik dari peserta dan relawan. Gunakan informasi ini untuk meningkatkan inisiatif di masa depan dan melakukan penyesuaian yang diperlukan untuk memastikan efektivitasnya.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, gereja dapat mengatur inisiatif penjangkauan dan pelayanan komunitas yang berdampak positif terhadap kesejahteraan komunitas lokal.
Merencanakan dan Melaksanakan Layanan dan Program Ibadah
Merencanakan dan melaksanakan layanan dan program ibadah merupakan aspek penting dari manajemen gereja yang efektif. Pada bagian ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana mengembangkan jadwal ibadah yang komprehensif, mengatur layanan ibadah yang bermakna dan menarik, serta merencanakan dan melaksanakan program dan acara yang berdampak. Bersiaplah untuk menyelami rahasia di balik menciptakan pengalaman ibadah yang berkesan dan menginspirasi yang akan meninggalkan dampak abadi bagi jemaat Anda.
Mengembangkan jadwal ibadah yang komprehensif
Mengembangkan jadwal ibadah yang komprehensif sangat penting untuk manajemen gereja yang efektif. Berikut langkah-langkah penting yang perlu diperhatikan saat membuat jadwal ibadah:
Identifikasi komponen kunci: Tentukan berbagai elemen yang akan dimasukkan dalam jadwal ibadah, seperti urutan kebaktian, nyanyian pujian, doa, dan khotbah.
Pertimbangkan kebutuhan jemaah: Pertimbangkan preferensi dan kebutuhan jemaah. Menilai demografi, minat, dan kebutuhan spiritual untuk memastikan jadwal tersebut memenuhi pertumbuhan dan pemeliharaan spiritual mereka.
Rencanakan ke depan: Buatlah jadwal terlebih dahulu, dengan mempertimbangkan variasi musiman dan acara-acara khusus seperti hari libur atau perayaan. Hal ini memungkinkan perencanaan dan koordinasi yang tepat dengan pembicara tamu, paduan suara, atau musisi.
Pastikan variasi: Bertujuan untuk pengalaman ibadah yang beragam dan menarik dengan menggabungkan gaya musik, pembicara tamu, atau elemen tematik yang berbeda. Hal ini membantu sidang tetap terlibat dan tertarik untuk hadir secara teratur.
Alokasikan waktu yang tepat: Tentukan durasi setiap komponen ibadah untuk memastikan kelancaran arus. Pertimbangkan kebutuhan berbagai segmen, seperti khotbah, musik, dan doa, untuk menciptakan jadwal yang seimbang dan berjalan dengan baik.
Komunikasikan jadwal: Bagikan jadwal ibadah kepada jemaat melalui berbagai saluran, seperti buletin gereja, buletin, atau platform digital. Hal ini membantu agar setiap orang mendapat informasi dan mendorong kehadiran.
Evaluasi dan adaptasi: Tinjau jadwal ibadah secara teratur untuk menilai efektivitasnya dan buat penyesuaian yang diperlukan berdasarkan masukan dari jemaah. Hal ini memungkinkan adanya perbaikan terus-menerus dan keselarasan yang lebih baik dengan visi dan tujuan gereja.
Dalam sejarah manajemen gereja, mengembangkan jadwal ibadah yang komprehensif sangatlah penting untuk memastikan pengalaman ibadah yang bermakna dan memupuk pertumbuhan rohani jemaat. Dengan merencanakan dan menerapkan jadwal yang inklusif dan beragam secara hati-hati, gereja-gereja telah mampu menciptakan lingkungan ramah yang mendorong partisipasi dan keterlibatan aktif. Perkembangan jadwal ibadah telah berkembang seiring berjalannya waktu, menggabungkan teknologi modern dan strategi komunikasi untuk menjangkau dan terhubung secara efektif dengan jamaah. Saat ini, prosesnya melibatkan pertimbangan kebutuhan, preferensi, dan demografi jemaat sambil juga mencari cara-cara baru untuk memberikan pengalaman yang memperkaya secara rohani. Melalui evaluasi dan adaptasi yang berkelanjutan, gereja-gereja terus menyempurnakan jadwal ibadah mereka agar selaras dengan visi dan misi mereka untuk menciptakan komunitas iman yang dinamis dan berkembang.
Menyelenggarakan ibadah yang bermakna dan menarik
Menyelenggarakan layanan ibadah yang bermakna dan menarik sangat penting bagi komunitas gereja yang berkembang. Kebaktian ibadah adalah kesempatan bagi anggota untuk berkumpul, terhubung dengan iman mereka, dan mengalami pertumbuhan rohani.
Rencanakan beragam layanan ibadah untuk memenuhi kebutuhan dan preferensi jemaat Anda. Hal ini dapat mencakup layanan tradisional , layanan kontemporer , atau kombinasi keduanya. Tawarkan berbagai gaya musik, seperti himne , musik Kristen kontemporer , atau gospel .
Ciptakan jadwal ibadah yang seimbang dan terencana dengan matang. Pertimbangkan alur kebaktian, termasuk waktu berdoa , pembacaan tulisan suci , khotbah , dan pertunjukan musik . Pastikan tersedia cukup waktu untuk refleksi dan keterlibatan .
Libatkan jemaat dengan memasukkan elemen interaktif ke dalam layanan ibadah. Hal ini dapat mencakup kesempatan untuk bernyanyi bersama , pembacaan yang responsif , atau mengundang anggota untuk berbagi kesaksian atau pengalaman pribadi .
Pilih topik khotbah yang relevan dan berdampak yang disukai jemaat. Mengatasi tantangan saat ini, menawarkan panduan, dan memberikan wawasan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Memanfaatkan multimedia dan teknologi untuk meningkatkan pengalaman beribadah. Ini dapat mencakup layar proyeksi untuk menampilkan lirik dan petikan tulisan suci, sistem audio untuk suara yang jernih, dan elemen visual yang melengkapi tema kebaktian.
Mendorong keterlibatan anggota dengan menyediakan kesempatan bagi mereka untuk melayani selama kebaktian. Ini dapat mencakup peran seperti pembaca tulisan suci , penerima tamu , penyambut tamu , atau musisi . Dengan melibatkan anggota, mereka merasakan rasa kepemilikan dan koneksi terhadap layanan.
Ciptakan suasana inklusivitas dan kehangatan selama ibadah. Pastikan semua orang merasa diterima, apapun latar belakang atau keadaannya. Imbaulah para anggota untuk saling menyapa dan terlibat satu sama lain sebelum dan sesudah kebaktian.
Evaluasi secara teratur dan carilah umpan balik dari jemaat untuk memahami preferensi mereka dan area yang perlu ditingkatkan. Hal ini dapat dilakukan melalui survei, kelompok fokus, atau percakapan empat mata. Gunakan umpan balik ini untuk melakukan penyesuaian dan peningkatan pada layanan ibadah di masa depan.
Dengan menyelenggarakan layanan ibadah yang bermakna dan menarik, gereja Anda dapat menciptakan ruang di mana individu merasa terhubung dengan iman mereka, terinspirasi, dan terangkat secara spiritual.
Merencanakan dan melaksanakan program dan acara yang berdampak
Ketika merencanakan dan melaksanakan program dan acara yang berdampak di lingkungan gereja, ada beberapa faktor penting yang perlu dipertimbangkan:
Identifikasi tujuannya: Tentukan dengan jelas tujuan program atau acara. Baik untuk melibatkan masyarakat, menggalang dana untuk suatu tujuan, atau memberikan peluang pertumbuhan spiritual, memiliki tujuan yang jelas akan memandu proses perencanaan.
Tetapkan tujuan dan sasaran: Tetapkan tujuan spesifik dan terukur yang ingin Anda capai melalui program atau acara. Hal ini dapat mencakup target kehadiran, penggalangan dana, atau dampaknya terhadap masyarakat.
Buat rencana terperinci: Kembangkan rencana komprehensif yang menguraikan logistik, jadwal, dan sumber daya yang diperlukan untuk program atau acara. Tetapkan tanggung jawab kepada anggota tim yang berbeda untuk memastikan kelancaran pelaksanaan.
Libatkan relawan: Rekrut dan latih relawan yang berdedikasi untuk mendukung program atau acara. Mereka dapat membantu berbagai tugas seperti pengaturan, pendaftaran, keramahtamahan, atau penyampaian program.
Mempromosikan program atau acara: Kembangkan rencana pemasaran dan komunikasi strategis untuk mempromosikan program atau acara kepada komunitas gereja dan sekitarnya. Memanfaatkan berbagai saluran seperti media sosial, buletin gereja, dan informasi dari mulut ke mulut untuk memaksimalkan kesadaran dan partisipasi.
Evaluasi dan pelajari: Setelah program atau acara selesai, evaluasi keberhasilannya berdasarkan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Kumpulkan umpan balik dari peserta dan relawan untuk mengidentifikasi area perbaikan untuk program masa depan.
Merencanakan dan melaksanakan program dan acara yang berdampak di gereja memerlukan pertimbangan yang cermat mengenai tujuan , sasaran , perencanaan terperinci , keterlibatan sukarelawan , promosi yang efektif , dan evaluasi berkelanjutan untuk perbaikan .
Saran agar program dan acara berhasil mencakup keterlibatan seluruh komunitas gereja dalam proses perencanaan, berkolaborasi dengan gereja atau organisasi lain untuk acara berskala lebih besar, dan memanfaatkan teknologi untuk registrasi dan komunikasi yang efisien.
Memastikan Administrasi Gereja yang Efektif
Temukan cara memastikan administrasi gereja yang efektif dengan penerapan sistem dan proses administrasi yang efisien, pengelolaan fasilitas dan sumber daya gereja yang tepat, dan kepatuhan terhadap persyaratan hukum dan peraturan. Maksimalkan potensi operasional gereja Anda sehari-hari, sederhanakan tugas organisasi, dan ciptakan landasan yang kuat untuk pertumbuhan dan dampak komunitas. Mulai dari mengoptimalkan alur kerja administratif hingga menjaga kepatuhan, bagian ini memberikan wawasan berharga untuk keberhasilan pengelolaan gereja.
Menerapkan sistem dan proses administrasi yang efisien
Menerapkan sistem dan proses administrasi yang efisien sangat penting untuk manajemen gereja yang efektif. Berikut beberapa strategi utama yang perlu dipertimbangkan:
1. Menyederhanakan komunikasi: Memanfaatkan alat dan platform digital untuk memfasilitasi komunikasi yang efisien antara staf gereja, relawan, dan anggota jemaat. Ini dapat mencakup daftar email, aplikasi perpesanan, dan alat kolaborasi online.
2. Tetapkan prosedur yang jelas: Kembangkan protokol dan pedoman standar untuk tugas administratif seperti perencanaan acara, pencatatan, dan manajemen fasilitas. Hal ini memastikan konsistensi dan mengurangi potensi kesalahan atau kesalahpahaman.
3. Menggunakan teknologi untuk mengotomatisasi proses: Menerapkan sistem dan proses administrasi yang efisien Menerapkan perangkat lunak atau aplikasi yang dapat mengotomatiskan tugas-tugas administratif rutin, seperti penjadwalan, manajemen keanggotaan, dan pelaporan keuangan. Ini meminimalkan input manual dan menghemat waktu dan tenaga.
4. Mendelegasikan tanggung jawab: Tetapkan peran dan tanggung jawab khusus kepada individu yang memenuhi syarat dalam komunitas gereja. Hal ini membantu mendistribusikan beban kerja dan memastikan bahwa tugas ditangani secara efisien oleh mereka yang memiliki keterampilan dan keahlian yang diperlukan.
5. Meninjau dan memperbarui sistem secara berkala: Secara terus-menerus mengevaluasi efektivitas sistem dan proses administratif dan melakukan penyesuaian yang diperlukan. Carilah umpan balik dari staf dan relawan untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan dan menerapkan perubahan yang sesuai.
6. Berinvestasi dalam pelatihan dan pengembangan: Memberikan kesempatan pelatihan berkelanjutan bagi staf administrasi dan relawan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka. Meliputi lokakarya, seminar, dan kursus online terkait tugas administrasi, teknologi, dan manajemen organisasi.
7. Mempertahankan budaya akuntabilitas: Tetapkan harapan yang jelas dan ciptakan mekanisme akuntabilitas dalam tim administratif. Menilai kinerja secara teratur dan segera mengatasi masalah atau kekhawatiran apa pun.
Dengan menerapkan sistem dan proses administrasi yang efisien, gereja-gereja dapat meningkatkan operasional mereka secara keseluruhan, meningkatkan komunikasi, dan mengelola sumber daya mereka secara efektif demi kepentingan seluruh komunitas.
Mengelola fasilitas dan sumber daya gereja
Dalam hal pengelolaan fasilitas dan sumber daya gereja , penting untuk memiliki sistem yang efisien untuk memastikan kelancaran operasional dan pemanfaatan sumber daya dengan tepat. Berikut adalah rincian aspek-aspek utama yang perlu dipertimbangkan:1. Pemeliharaan fasilitas– Secara teratur memeriksa dan memelihara gedung dan pekarangan gereja2. Manajemen peralatan– Menyimpan inventaris semua peralatan dan memastikan pemeliharaan dan perbaikan yang tepat sesuai kebutuhan3. Alokasi anggaran– Mengalokasikan dana untuk pemeliharaan, perbaikan, dan peningkatan fasilitas4. Pemanfaatan sumber daya– Mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang tersedia, seperti ruang, furnitur, dan utilitas5. Keselamatan dan keamanan– Menerapkan langkah-langkah keselamatan dan protokol keamanan untuk melindungi gereja dan anggotanya6. Manajemen relawan– Merekrut dan melatih sukarelawan untuk membantu pemeliharaan fasilitas dan tugas lainnya7. Keberlanjutan– Mengembangkan praktik ramah lingkungan untuk mengurangi jejak karbon gereja
Dengan mengelola fasilitas dan sumber daya gereja secara efektif, Anda dapat memastikan lingkungan yang aman, ramah, dan fungsional bagi jemaat Anda untuk berkumpul dan beribadah. Hal ini juga memungkinkan Anda mengalokasikan sumber daya keuangan secara bertanggung jawab, sehingga memaksimalkan dampak anggaran Anda. Memiliki fasilitas yang terpelihara dengan baik dapat berkontribusi terhadap citra dan reputasi gereja secara keseluruhan di masyarakat. Evaluasi dan penyesuaian rutin terhadap strategi manajemen dapat membantu terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas manajemen fasilitas gereja Anda.
Memastikan kepatuhan terhadap persyaratan hukum dan peraturan
Memastikan kepatuhan terhadap persyaratan hukum dan peraturan sangat penting untuk manajemen gereja yang efektif. Penting untuk mematuhi semua hukum dan peraturan yang berlaku untuk menjaga transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan dalam komunitas gereja. Berikut adalah beberapa faktor utama yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini:
Pahami kerangka hukumnya: Pahami undang-undang dan peraturan khusus yang berlaku bagi gereja-gereja di yurisdiksi Anda. Hal ini dapat mencakup undang-undang perpajakan, undang-undang ketenagakerjaan, peraturan zonasi, dan persyaratan pelaporan.
Carilah nasihat profesional: Konsultasikan dengan profesional hukum dan keuangan yang berspesialisasi dalam organisasi nirlaba atau keagamaan. Mereka dapat memberikan panduan mengenai masalah kepatuhan dan membantu memastikan gereja Anda beroperasi dalam batas-batas hukum.
Simpan dokumentasi yang tepat: Catat semua dokumen hukum dan peraturan, seperti dokumen pendirian perusahaan, sertifikasi status bebas pajak, izin, lisensi, dan kontrak. Tinjau dan perbarui dokumen-dokumen ini secara berkala jika diperlukan.
Transparansi keuangan: Menerapkan praktik pengelolaan keuangan yang benar, termasuk pembukuan yang akurat, audit rutin, dan pelaporan keuangan. Hal ini akan membantu memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam operasional keuangan gereja Anda.
Lindungi data pribadi: Patuhi undang-undang perlindungan data dan privasi untuk melindungi informasi pribadi anggota dan karyawan Anda. Menerapkan langkah-langkah keamanan untuk mencegah akses tidak sah atau pelanggaran data.
Peraturan keselamatan dan kesehatan: Pastikan gedung gereja Anda mematuhi peraturan keselamatan dan kesehatan, termasuk keselamatan kebakaran, aksesibilitas, dan kesiapsiagaan darurat. Lakukan inspeksi rutin dan segera atasi masalah apa pun.
Perlindungan asuransi: Dapatkan perlindungan asuransi yang sesuai untuk melindungi gereja Anda dari potensi tanggung jawab, seperti kerusakan properti, kecelakaan, dan tuntutan hukum.
Tips profesional: Tinjau dan perbarui pengetahuan Anda secara teratur tentang persyaratan hukum dan peraturan untuk tetap mendapat informasi tentang perubahan apa pun yang mungkin berdampak pada gereja Anda. Carilah pelatihan dan pendidikan berkelanjutan untuk memastikan kepatuhan dan mendorong tata kelola yang baik dalam organisasi Anda.
Beberapa Fakta Tentang Tips Pengelolaan Gereja yang Efektif:
✅ Manajemen gereja yang efektif sangat penting untuk membangun komunitas yang kuat dan mencapai tujuan organisasi.
✅ Gereja sering kali bergumul dengan praktik-praktik yang sudah ketinggalan zaman, komunikasi yang buruk, dan administrasi yang tidak efisien.
✅ Teknologi memainkan peran kunci dalam manajemen gereja, membantu komunikasi, menjangkau orang-orang baru, dan menyederhanakan proses.
✅ Alat manajemen Gereja harus mencakup berbagai fungsi, mulai dari manajemen keuangan hingga koordinasi sukarelawan.
✅ Menerapkan praktik manajemen gereja yang efisien dapat menghasilkan organisasi yang lebih sukses dan terlibat.
Apa sajakah tip untuk pengelolaan gereja yang efektif?
Berikut beberapa tip pengelolaan gereja yang efektif: 1. Mengembangkan rencana strategis bagi gereja untuk menetapkan tujuan dan sasaran. 2. Menerapkan tata kelola dewan untuk memastikan akuntabilitas dan pengawasan. 3. Gunakan solusi penjadwalan otomatis untuk mengelola relawan dan mengoordinasikan tugas. 4. Memanfaatkan perangkat lunak manajemen gereja untuk menyederhanakan proses dan meningkatkan efisiensi. 5. Berkomunikasi secara jelas dengan jamaah melalui alat teknologi dan strategi komunikasi yang jelas. 6. Melacak keuangan gereja dengan sistem manajemen pengeluaran yang dirancang untuk gereja.
Karena dipandang begitu pentingnya sebuah sejarah bagi kehidupan manusia, yang tidak bisa begitu saja dilupakan. Oleh karena itulah saya sadar, sebagai manusia yang seutuhnya, manusia yang beragama, dan yang bernaung dalam sebuah Jemaat (Gereja), dalam hal ini Gereja Kristen Jawi Wetan Jemaat Kertorejo. Saya merasa terpanggil untuk menyusun, serta merangkai dan membukukan sebuah sejarah perkembangan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Kertorejo.
Memang kelihatan sudah ada buku yang beredar, yang menceritakan perkembangan / sejarah perkembangan Gereja di Jawa Timur, akan tetapi tidak sama sekali menyentuh perkembangan sejarah Gereja Kristen Jawi Wetan jemaat Kertorejo. Karena itulah saya sangat berkeinginan untuk mencetak buku ini, dan tentunya berdasarkan bukti serta fakta juga para saksi yang bisa dipertanggung jawabkan.
Dengan tercetaknya buku ini, kiranya bisa dipakai untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca semua. Tuhan Yesus memberkati kita semua, Amin.
Kertorejo, 8 Juni 2006 Sudarmaji
BAB : I PENDAHULUAN Pada dasarnya, perkembangan sebuah jemaat dan gereja, itu sebenarnya juga tidak bisa lepas dari perkembangan daerah dan desa dimana Gereja dan jemaat yang bersangkutan itu berada. GKJW Jemaat Kertorejo tumbuh dan berkembang dalam suatu wilayah desa yaitu desa Kertorejo Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang Propinsi Jawa Timur. Desa Kertorejo adalah suatu desa yang cukup besar yang membawahi 5 (lima) wilayah dusun atau dukuhan diantaranya yaitu:
Dusun/Dukuhan Ganjul
Dusun/Dukuhan Pathok
Dusun/Dukuhan Kedawung
Dusun/Dukuhan Jombatan dan
Dusun/Dukuhan Kertorejo.
Yang kesemuanya itu menjadi 1 (satu) wilayah kelurahan atau Desa yaitu Desa Kertorejo. Dan Dusun/Dukuhan Kertorejo-lah yang menjadi pusat pemerintahan-nya. Desa Kertorejo mempunyai banyak penduduk yang tersebar di beberapa wilayah dukuhan. Dan agama serta kepercayaan mereka pun bermacam-macam. yaitu ada yang menganut agama Islam dan juga ada yang menganut agama Kristen. Akan tetapi mereka banyak yang menganut agama Islam (agama mayoritas mereka adalah agama Islam) hanya sebagian kecil saja dari mereka yang menganut agama Kristen. Yaitu mereka yang tinggal di wilayah dusun / Dukuhan, Kertorejo, Ganjul, Kedawung dan Jombatan, itupun juga hanya bagian kecil saja yang Kristen. Hanya Dusun Kertorejo sajalah yang mayoritas masyarakatnya memang menganut agama Kristen.
Desa Kertorejo memang termasuk desa agraris, yang notabenenya memang penduduknya kebanyak orang-orang petani. Meskipun penduduk desa Kertorejo menganut bermacam-macam aliran agama atau kepercayaan, hidup mereka antara satu sama lain sangat harmonis. Walaupun agamanya berbeda, mereka bisa hidup berdampingan antara satu dengan yang lain, mereka saling menghargai antara agama yang satu dengan agama yang lain, lagi pula masyarakat desa Kertorejo masih sangat menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya jawa hingga sampai saat ini (sampai sekarang). Kebersamaan, keharmonisan dalam hidup dan kehidupan masyarakat desa Kertorejo itu bisa kita lihat dalam hidup dan kehidupan mereka sehari-hari. Lebih-lebih bila ada acara-acara tertentu, misalnya memperingati hari-hari besar keagamaan. Seperti hari raya natal, banyak orang-orang non Kristen untuk menyampaikan selamat. Begitu sebaliknya, bila hari raya Idul Fitri banyak warga Kristen yang datang ke rumah orang Islam juga untuk menyampaikan selamat, itu semua telah dilakukan sejak zaman nenek moyang dulu, bahkan telah menyadi suatu kebiasaan serta telah membudaya dalam kehidupan masyarakat desa Kertorejo yang sepertinya tidak bisa dihilangkan begitu saja. Ini menunjukkan bahwa, memang masyarakat desa Kertorejo masih sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan yang ada dalam ajaran atau dalam agama mereka masing-masing. Juga menunjukkan bahwa betapa pentingnya agama, dalam sebuah kehidupan masyarakat.
Di Desa Kertorejo agama bisa berkembang dengan baik, itu agama Kristen maupun agama Islam. Dengan demikian, berarti masyarakat desa Kertorejo sadar, akan pentingnya hidup beragama. Dan dengan kesadaran itu pula mereka saling bahu-membahu dalam mendirikan rumah-rumah ibadah, yang dulu memang belum ada. Seperti masjid dulu pada jaman penjajah baik Belanda maupun Jepang di Kertorejo itu memang belum ada, dan baru dibangun di era tahun 1990-an, kecuali gereja, khususnya GKJW yang memang sudah dibangun sejak era penjajahan Belanda tahun 1880an Dengan demikian, betapa pentingnya sebuah sejarah bagi kehidupan manusia, karena dengan adanya sejarah, manusia bisa mengenal/mengetahui, perkembangan sebuah bangsa beserta budaya termasuk perkembangan agamanya pula. Karena itulah melalui buku ini kami ingin menceritakan sekelumit sejarah GKJW Jemaat Kertorejo dan kiranya buku ini berguna buat menambah wawasan para pembaca semua.
Denah wilayah Desa Kertorejo :
BAB : II
Mengenal GKJW Jemaat Kertorejo.
Awal Mulanya Terbentuknya Jemaat Kertorejo. Dusun Kertorejo adalah merupakan salah satu dari bagian wilayah sebuah Desa, yang dihuni oleh banyak keluarga, diantaranya keluarga besar Raden Mas Surodito yang berasal dari Kartosuro/Solo Jawa Tengah. Waktu itu dimulai dengan berakhirnya perang Diponegoro pada tahun1825 1830. dalam peristiwa itu Sasahunan Paku Buwono I/Pangeran Puger, dan juga para pangeran serta para kerabat keraton yang disertai oleh beberapa Prajurit pilihan menyingkir ke bagelan. Sebagian lagi ada yang menyingkir ke Jawa Timur termasuk RM Surodito, yang selanjutnya melanjutkan perlawanannya di Jawa Timur. Dalam perjalanan selanjutnya RM. Surodito sekeluarga akhirnya menetap di sebuah desa yaitu desa Kedungturi, Taman Sidoarjo, diperkirakan pada tahun 1836 sampai akhir hayatnya. RM. Surodito sendiri wafat dengan meninggalkan 7 (tujuh) anak yaitu :
RM Kedali: yang kemudian tinggal di Desa Delik dan akhirnya diangkat menjadi Kepala Desa oleh Cl. Coolen (Coenroad Laurens Coolen)
RM Suropuspo: yang menjabat sebagai Bupati Sidoarjo waktu itu
RM Wariyo yang semasa hidupnya beliau mengikuti putranya yang bernama R. Wakiyo yang tinggal di Desa Kertorejo dan R. Wakiyo inilah yang menjadi Kepala Desa Kertorejo yang pertama kali.
RM. Suryo (Simon)
RNGT. Kabi (Naumi)
RNGT. Midah (Marthah)
8RM. T. Mangun dirono yang pernah menjadi Bupati Kalangbret, Tulungagung kala itu.
Pada tanggal 12 September 1843 (dari sumbebr lain menyebutkan tanggal 25 September 1844), Raden Mas Surya (Simon) bersama putra-putrinya dan dua (2) orang saudaranya yaitu: Raden NGT Kabi (Naumi) dan Raden Ngt. Midah (Martah) telah menerima babtisan kudus di Gereja Protestan Surabaya, bersama dengan Singotruno (Yakubus) dan Tosaro (Paulus) serta Pak Kunto (Eliasar). Yang kemudian mereka semua itu pindah ke desa Mojojejer /Mojoroto sedangkan Pak Kunto (Eliasar) pindah ke Mojowangi. Sedangkan Raden Mas Wariyo tinggal di Desa Kertorejo bersama anaknya / ikut anaknya yang bernama Raden Wakiyo. Dengan demikian kita bisa menyimpulkan, bahwa keluarga besar R. Wakiyo-lah yang menjadi cikal bakal jemaat Kertorejo (adanya warga Kristen di Kertorejo itu diawali dari adanya keluarga besa R. Wakiyo anak dari RM. Surodito yang berasal dari Kartosuro/Solo). Memang perlu dimaklumi, kenapa keluarga RM. Surodito bersama sebagian dari anaknya bisa sampai di Kertorejo, padahal mereka tidak ada maksud dan tujuan untuk menyebarluaskan agama. Ini semua dikarenakan pada waktu itu negara dan bangsa Indonesia sedang dalam kekuasaan penjajah yaitu dijajah oleh bangsa Belanda, jadi waktu itu hidup rakyat Indonesia selalu dalam tekanan dan bayang-bayang bangsa penjajah (bangsa Belanda). Yang akhirnya terjadilah peperangan pemberontakan dimana-mana, hampir di seluruh wilayah nusantara, termasuk salah satunya Perang Diponegoro, yang melibatkan keluarga besar RM. Surodito yang kemudian menyingkir ke Jawa Timur dan sampailah di Kertorejo. Di Kertorejo Raden Mas Wariye (anak Raden Mas Surodito) tinggal bersama anaknya yang bernama R. Wakiyo yang kebetulan waktu itu menjadi kepala desa yang pertama kali di Kertorejo. Kemudian Karena beliau seorang Kepala Desa, tentunya mempunyai pengaruh yang besar di Kertorejo dan sekitarnya, sehingga apa saja yang dilakukan oleh keluarga R. Wakiyo, dengan diam-diam banyak/secara tidak langsung banyak mempengaruhi warga lain.
Karena waktu itu keluarga R. Wakiyo adalah penganut/pemeluk agama Kristen yang taat kepada Allah, sehingga apa saja yang mereka lakukan tentu di awali dengan nama Allah, termasuk dalam penggarapan sawah. Jadi, sebelum sawah itu dikerjakan, terlebih dahulu para pekerja itu harus berdoa, sesuai dengan petunjuk atau tuntunan yang diberikan oleh majikannya (R. Wakiyo). Kebiasaan ini berlangsung terus menerus hingga bertahun-tahun, kemudian sejak keluarga R. Wakiyo ini, atau kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh keluarga R. Wakiyo ini, banyak diikuti oleh warga lain di wilayah kertorejo dan sekitarnya. Sehingga akhirnya banyak pula warga yang menganut agama, seperti agama yang dianut oleh keluarga R. Wakiyo, yaitu agama Kristen. Kemudian hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, warga Kristen di wilayah Kertorejo juga menjadi tambah banyak dan berkembang dengan baik seiring dengan perkembangan zaman. Perkembangan warga Kristen di Kertorejo akhirnya mendapat perhatian serius, yang kemudian di bentuklah sebuah jema’at (jemaat Kertorejo) yaitu kurang lebih pada tahun 1889.
BAB III PERKEMBANGAN GKJW JEMAAT KERTOREJO
A. Keadaan Jemaat Sebelum Kemerdekaan RI
Perkembangan warga Kristen di Kertorejo, seiring dengan perkembangan zaman, lama-lama tambah menjadi banyak dan besar, dan ini merupakan suwatu perkem bangan yang sangat menyenangkan. Apalagi dengan di babtisnya beberapa anggota warga jemaat baru, yang di babtis bersama-sama dengan warga baru di jemaat Ngoro, di babtis di gereja Ngoro yang dilayani oleh Pendeta Jellesma dari jemaat Mojowarno. Melihat hal yang demikian ini, Pendeta Jellesma akhirnya berpendapat bahwa warga Kristen di Kertorejo itu benar-benar sangat memerlukan bimbingan dari seseorang yang benar-benar pula mumpuni atau mendalami isi Alkitab, Buat warga Kristen di Kertorejo dan juga yang benar-benar memahami pula karakteristik warga. Dengan demikian akhirnya Pendeta Jellesma memutuskan untuk mengirim seorang guru Injil yang pertama kali di Kertorejo, yaitu kurang lebih pada tahun 1855. dan guru Injil tersebut bernama Bapak Linoar (Kyai Linoar). Kemudian dalam perkembangan selanjutnya, ternyata Bapak Linoar (Kyai Linoar) di tolak oleh warga, karena sikapnya yang kurang berkenan di hati warga, lagi pula beliau juga kurang bisa beradaptasi. Sehingga warga mengusulkan kepada Pendeta Jelles agar Bapak Linoar ditarik kembali ke Mojowarno, dan memohon agar digantikan oleh bapak Sesam yaitu orang dari Kertorejo sendiri, ini semua berlangsung pada tahun yang sama yaitu pada tahun 1855. Dalam perkembangan selanjutnya, dibawah bimbingan Bapak Sesam (Kyai Sesam), warga Kristen Kertorejo akhirnya mempunyai inisiatif untuk mendirikan sebuah rumah yang cukup sederhana untuk beribadah. Bahkan dan pelaksanaanya dilakukan dengan cara bergotong royong sesuai dengan adat istiadat budaya jawa. Sehingga berdirilah sebuah rumah yang cukup apik waktu itu, dan hanya memuat 20 sampai 30 tempat duduk saja. Rumah tersebut didirikan diatas tanah pekarangan milik Bapak Sesam sendiri, yang letaknya cukup bisa di jangkau oleh semua warga, yaitu di pinggir jalan. Sesuai dengan tuntutan zaman, warga juga semakin kritis cara fikirnya, Oksehingga mereka berinisiatif untuk mendirikan sebuah sekolahan demi kepentingan pendidikan anak-anaknya. Akhirnya pada tahun 1876 berdirilah sebuah sekolahan dan tenaga pengajarnya yaitu Bapak Sesam sendiri. Dalam perkembangan selanjutnya, sekolahan tersebut mengalami banyak perkembangan, karena muridnya ternyata banyak sekali baik dari warga Kristen maupun non Kristen. Hal ini justru mendapat perhatian serius dari pemerintah Belanda selaku bangsa penjajah, mereka tidak menyia-nyiakan hal ini, akhirnya sekolahan diambil alih kekuasannya oleh pemerintah Belanda selaku penjajah. Sekali lagi warga Kristen di Kertorejo dibawah bimbingan guru Injil Bapak Sesam. Justru malah berkembang menjadi besar, sehingga rumah untuk ibadah yang semula dibangun sederhana mungkin itu, akhirnya tidak memadai lagi, warga sangat aktivitas sekali untuk beribadah, sangat semangat yang akhirnya membuat rumah untuk ibadah yang sederhana itu, tidak sanggup lagi menampung warga. Melihat hal yang demikian ini, para tokoh warga Kristen di Kertorejo termasuk Bpk. Sesam berinisiatif untuk berkumpul, berbicara bersama, kemudian mengambil kebijaksanaan, serta memutuskan sesuatu hal yang terbaik demi kepentingan dan keperluan semua warga kristen di Kertorejo, kemudian hasil musyawarah mereka, memutuskan, salah satu di antaranya yaitu, berusaha membangun sebuah gereja yang lebih besar diatas tanah milik sendiri. Bapak Sesam orangnya memang begitu supel, pandai bergaul, lagipula beliau sangat disukai dan sangat disegani oleh warga, sampai-sampai Bapak Wakiyo sebagai Kepala Desa pun, sangat dekat sekali dengan beliau (Bapak Sesam). Dan karena kedekatan mereka berdua itulah, sehingga timbul inisiatif untuk mengumpulkan para sesepuh warga kembali, guna untuk membicarakan, agar secepatnya rencana pembangunan gedung gereja yang sudah menjadi keputusan bersama itu direalisasikan. Dan sesuai rencana gedung tersebut nantinya akan memuat atau bisa menampung ± 150 orang. Kata sepakat pun mereka ambil, mereka sangat setuju sekali bila pembangunan gedung gereja tersebut dipercepat realisasinya. Kemudian secepatnya pula mereka menyampaikan rencana tersebut kepada seluruh warga dan warga pun menyambutnya dengan sangat baik sekali. Semua warga akhirnya saling bahu membahu, bekerja sama untuk mengumpulkan bahan, ada yang menyumbang kayu, ada yang menyumbang paku, adapula yang menyumbang genteng/atap dan lain sebagainya. Setelah semua bahan dirasakan sudah terkumpul dan cukup, baru mereka mengerjakannya, itupun dilakukannya dengan gotong royong sampai selesai tanpa imbalan apapun. Pembangunan itu sendiri selesai pada tahun itu juga yaitu tahun 1878. Meskipun gereja dibuat dari bahan kayu, akan tetapi hasilnya cukup memuaskan, baik, besar, kuat dan kokoh, lagi pula cukup untuk menampung semua warga dalam ibadah. Seiring dengan perkembangan zaman, dan kurang lebih berjalan sepuluh tahun (±10 tahun) lamanya gereja yang semula dibuat dari bahan kayu tersebut telah mengalami banyak kerusakan, baik tiang maupun atapnya yang sudah lapuk dimakan ngengat, begitu juga dengan dindingnya. Begitu juga dengan keadaan pemerintahan desa Kertorejo, juga mengalami banyak perubahan kepemimpinan. Yang semula dipimpin Bapak lurahWakiyo, kemudian digantikan oleh Bapak Lurah Loso Surobrojo, karena zaman terus berkembang dan berubah. Lagi pula masa jabatan bapak lurah Loso Surobrojo juga habis, maka akhirnya beliau pun digantikan oleh Bapak Teguh Surodiwongso.
Meskipun kepemimpinan pemerintah desa Kertorejo terus berganti-ganti sesuai dengan jabatan mereka masing-masing, akan tetapi, tidak demikian dengan keadaan warga Kristen, yang masih saja tetap dibawah kepemimpinan atau bimbingan guru Injil Bapak Sesam, karena begitu dekatnya hubungan antara Bapak Sesam dengan warga, yaitu seperti hubungan antara seorang anak dengan orang tua.
Bapak Sesam sangat memperhatikan kepentingan, keperluan dan kebutuhan warga. Gereja pun juga merupakan suatu keperluan dan kebutuhan warga, oleh karena itulah, bapak Sesam justru sangat memper hatikannya, sebab keadaan gereja yang memang sudah sangat memprihatinkan sekali, disana-sini banyak kerusakan, atapnyapun sudah pada bocor. Itu semua juga menjadi keprihatinan bapak Sesam selaku guru injil. Sehingga beliau berfikir untuk mencari jalan keluar yang terbaik musyawarah antar warga pun dilakukan hubungan dengan kepala desa selaku pimpinan desa juga dijalin. Akhirnya Dengan dukungan warga perjuangan Beliau membuahkan hasil yang cukup menggembirakan, yaitu sebuah keputusan dan kesepakatan, untuk membongkar gereja lama dan membangunnya kembali, dan tentunya menjadi gereja yang lebih baik. Oleh karena itu bahan bangunannya pun bahan pilihan. Semua warga akhirnya juga bersepakat untuk meminta izin kepada pemerintah Belanda selaku penguasa waktu itu, agar mereka di izinkan untuk mengambil kayu jati dihutan, untuk bahan bangunan gereja. Setelah mendapatkan izin dari pemerintah Belanda warga secara gotong royong bergerak, menuju ke hutan Wonosobo (sekarang gambiran Mojoagung) karena disanalah tempat kayu jati yang tua dan baik. Mereka saling bahu membahu dalam melaksanakan pekerjaannya, sebagian ada yang menebang ditengah hutan sebagian lagi ada yang mengangkat keluar hutan. Setelah dirasakan semuanya itu cukup, lalu secara bersama-sama pula mereka membawanya pulang ke Kertorejo, dengan menggunakan gerobak sapi (cikar). Kemudian, diperkirakan semua bahan sudah cukup baik kayu, genteng, batu bara dan semen, barulah warga menentukan hari untuk mengadakan penggalian pondasi serta peletakan batu pertama. Yaitu pada tanggal 20 September 1887 yang tertulis dalam Soryo Sengkolo Aruning Pujonggo Ngesthi (ditulis dalam bahasa jawa di pintu Gerbang masuk Greja) Pembangunan itu sendiri memakan waktu yang cukup lama, sedangkan para pekerjaannya berasal dari warga itu sendiri, baik itu tenaga ahli atau bukan, seperti tukang kayunya dipercayakan kepada bapak Basuki, bapak Dermorejo, dipercayai menjadi tukang batunya, dalam pelaksanaan selanjutnya warga banyak menerima sumbangan / bantuan dari warga Kristen yang berada di Mojowarno, Mojowangi, Mojoroto, Mojodukuh, Sukobendu, Mojojejer, juga dari warga Kristen yang ada di Ngoro. Bantuan tersebut ada yang berupa uang ada pula yang berupa bahan bangunan. Setelah berjalan kurang lebih dua tahun (± 2 tahun) pembangunan gereja tersebut baru selesai, yang kemudian diresmikan pada tanggal 20 Desember 1888. Gereja dibangun berdasarkan adat istiadat budaya jawa, baik model atau bentuknya, seperti teras dibangun bertingkat bertangga-tangga (dalam bahasa jawa diberi undak-undakan), dengan maksud dan ‘tujuan yaitu untuk duduk-duduk sementara, sambil menunggu waktu masuk ke ruang ibadah. Disitu warga bisa langsung saling tegur sapa, saling bercengkrama satu dengan yang lain. Berbicara santai mengenai hal-hal yang terjadi di setiap hari. Baru kemudian setelah lonceng gereja dibunyikan pertanda bahwa ibadah akan segera dimuali, semua warga satu persatu mulai memasuki ruang ibadah, untuk melaksanakan ibada bersama-sama. Memang dengan berdirinya gereja yan baru, disetiap minggu warga kelihatannya semakin aktif saja pergi beribadah, lebih-lebih dengan diresmikannya Kertorejo menjadi jemaat baru yaitu pada tahun 1889. warga semakin bersemangat saja dalam membangun sebuah persekutuan. Keberhasilan Kertorejo menjadi jemaat baru ini semua karena campur tangan Tuhan melalui seorang guru injil yang bernama bapak Sesam. Sedangkan bapak Sesam sendiri sudah cukup lama dalam menjalankan tugas kepelayanannya di jemaat Kertorejo yaitu mulai dari tahun 1855 Begitu menginjak usia yang ke 60-an beliau sering menderita sakit-sakitan, sehingga mengganggu tugas kepelayanannya. Semakin hari semakin sakit, beliau tambah semakin parah, dan akhirnya beliau dipanggil Tuhan pada usia 67 tahun (1827-1894). Kemudian tugas pelayanan berikutnya, dalam kurun waktu 51 th ( 1894 – 1945 ) jemaat Kertorejo di layani oleh 3 orang guru Injil secara bergiliran, yang pertama Guru Injil Bapak Iprayim. Setelah itu di ganti Bapak Saboen. Setelah itu yang terakhir di layani guru Injil Bapak Sademi.
B. Keadaan jemaat setelah kemerdekaan RI
Seiring dengan perkembangan zaman dan setelah Indonesia merdeka, baru jemaat Kertorejo dilayani oleh seorang Pendeta, untuk pertama kalinya, karena ditempati oleh seorang Pendeta, maka jemaat Kertorejo harus menyiapkan segala sesuatunya yang berhubungan dengan keperluan pendeta. Salah satunya rumah kepanditan, yang belum dimiliki oleh jemaat Kertorejo. Sedangkan pendeta yang bertugas di jemaat kertorejo untuk pertama kalinya yaitu bapak Pendeta Tasdik pada tahun 1945. Akhirnya jemaat dengan para pengurus gereja yang ada, bekerja sama dengan Pendeta Tasdik memutuskan untuk membangun rumah kependitan, yang letaknya persis disebelah utara gereja. Kemudian cara pelaksanaanya, seperti biasanya orang jawa, tentunya banyak menganut adat istiadat dan budaya, yaitu dilaksanakan dengan cara bergotongroyong satu dengan yang lain saling bahu membahu. Begitu rumah kepanditan selesai dibangun. Tidak lama kemudian diresmikan dan selanjutnya ditempati oleh Bapak Tasdik, selaku pendeta jemaat. Waktu itu keadaan atau lingkungan gereja masih banyak ditumbuhi pepohonan dikiri dan kanannya, karena rumah warga sendiri juga masih belum begitu banyak seperti sekarang ini, pohon-pohon yang tumbuh tersebut salah satu diantaranya yaitu pohon bambu tumbuh begitu subur dan lebat sekali, sehingga membuat pemandangan sedikit tidak menyenangkan, gereja kelihatan sedikit menyekamkan, begitu juga dengan rumah kepanditan, yang terletak disamping gereja dan sedikit agak kebelakangan yang malah kelihatannya sangat seram dan menakutkan, sehingga Bapak Tasdik sebagai pendeta pun merasa tidak nyaman serta kurang pas tinggal dirumah kepanditan tersebut. Akhirnya beliau memilih lebih baik tinggal di rumah warga ketimbang tinggal dirumah kepanditan. Selama kurang lebih tujuh tahun (+7 tahun) beliau menjalankan tugas kepelayanannya yaitu antara tahun 1945-1950. kemudian dipindah tugaskan lagi kejemaat lain. Selanjutnya jemaat Kertorejo dilayani oleh Bapak Pendeta Winoto Untung. Beliau bertugas di jemaat Kertorejo mulai tahun 1950 – 1954 kemudian selanjutnya diganti oleh Bapak Pendeta Pitoyo, yaitu kurang lebih tahun 1954-1960. Dan Kurang lebih pada tahun 1960-an itu, gerakan pengkabaran injil sedang giat-giatnya mengadakan PI ( pengkabaran Injil ) kependukuhan-pendukuhan disekitar desa Kertorejo, diantaranya ke dusun Ganjul dusun Latsari, Mojotengah, Larangan, Jombatan dan agak jauh sedikit, yaitu ke daerah Plumpung Wates Kecamatan Wonosalam, ± 9 km dari Kertorejo. Memang pada waktu itu sebelum meletus peristiwa G.30.S/PKI sekitar tahun 1955-1965, kesempatan untuk mengadakan pengkabaran injil masih sangat terbuka sekali, meskipun hasilnya tidak bisa atau belum bisa dirasakan pada saat itu pula. Hasil pengkabaran injil di wates Plumpung semula hanya ada 3 orang yang minta dilayani, kemudian lama kelamaan menjadi banyak dan tambah besar, sehingga akhirnya menjadi sebuah pepathan. Yaitu pepathan Wates Plumpung. Plumping itu adalah wilayah pegunungan yang letaknya kurang lebih (9 km) dari Kertorejo Kemudian sistem pelayanan lain halnya dengan di Gudo, sebelum menjadi bagian dari wilayah kerja jemaat Kertorejo, yaitu diawali dengan adanya seorang yang bernama Bapak Kaidan, pada tahun 1959-an. Beliau adalah seorang mantri yang ditugaskan oleh pihak rumah sakit Mojowarno ke BKIA binaannya di kecamatan Gudo. Karena di Gudo tidak ada GKJW sehingga kalau hari minggu bapak Kaidan pergi ke gerejanya, ke gereja GKJW jemaat Kertorejo. Seiring dengan perkembangan zaman, Gudo banyak didatangi oleh para pendatang baru dari berbagai tempat/wilayah, dan hidup menetap di kecamatan Gudo. Diantara para pendatang tersebut ada juga yang beragama Kristen, akhirnya lama kelamaan mereka bergabung dengan Bapak Kaidan pergi ke gereja di jemaat Kertorejo, mereka kebanyakan hidup terpisah dari satu dengan lain (sebagai warga marenco). Melihat hal yang demikian ini jemaat Kertorejo menyikapinya dengan baik, sehingga pada tahun + 1960 dibentuklah pepathan baru dan dibangun pulalah sebuah gedung tempat beribadah hingga sekarang. Warga pun tidak banyak, berdasarkan catatan tahun 1993 yaitu : warga dewas yang laki laki ada 17 orang. Perempuan ada 20 orang. Sedangkan warga anak anak , laki laki ada 21 orang, perempuan ada 9 orang. jumlah semua ada 67 orang, yang terdiri dari 20 kk. Sebagian warganya ada juga yang menjadi anggota majelis, sebagaimana pepatathan Wates Plumpung, sebagai majelis yang bertugas selain melayani juga menjadi koordinator/menyampaikan program-program kerja dari jemaat induk. Selanjutnya sistem pelayanannya dilayani dari induk satu (1) bulan sekali, kalau bukan bapak pendeta, ya para majelis secara bergantian. Di pepathan juga ada majelisnya yaitu empat (4) orang. Sehingga apabila dari induk tidak datang, ya majelis pepathan sendiri yang melayani. Semuanya itu diatur berdasarkan jadwal pelayanannya masing-masing, baik pendeta maupun para majelisnya. Jemaat Kertorejo semakin hari juga semakin menggembirakan perkembangannya. Sehingga tidak mungkin pelayanannya dilakukan satu (1) kali di gereja saja. Agar pelayanan bisa mereka kepada seluruh warga, maka perlu diadakan ibadah keluarga. Karena jemaat Kertorejo adalah jemaat yang cukup besar, sehingga dibagilah jemaat itu menjadi empat (4) kelompok wilayah diluar pepathan, yaitu: 1. Kelompok Yokanan. 2.Kelompom Debora. 3. Kelompok Paulus. 4. Kelompok Simon Petrus. Kelompok Simon-Petrus ini khusus wilayah Dusun Ganjul. Ini semua adalah inisiatif Bapak Pendeta Pitoyo, melalui musyawarah dengan para majelis yang ada pada waktu itu, selanjutnya pola pelayanannya tetap seperti biasa, kalau hari minggu senmua warga jemaat beribadah di gereja, setelah ibadah anak-anak atau ibadah BKA yaitu kurang lebih jam 08.30 pagi. Sedangkan untuk pelayanan diwilayah kelompok dilaksanakan pada malam hari yaitu tepatnya pada pukul 19.00wib. pelaksanaannya bergantian, yaitu setiap satu Minggu sekali, dengan jadwal sebagai berikut : Untuk kelompok Yokanan dilaksanakan pada hari Minggu. Kelompok Debora dan Kelompok Paulus di laksanakan pada hari Kamis, sedangkan kelompok Simon Petrus di laksanakan pada hari Selasa.
Para pelayannya pun juga bergantian baik majelis maupun pendetanya, semua diatur berdasarkan jadwal pelayanan yang sudah disepakati bersama. Sedangkan tempat ibadahnya juga bergantian, yaitu dirumah warga yang satu kerumah warga yang lain dan seterusnya. Kebiasaan ini terus berjalan hingga sampai sekarang. Setelah kurang lebih 6 tahun bapak pendeta Pitoyo melaksanakan tugas kepelayanannya di jemaat Kertorejo, akhirnya beliau dipindah tugaskan kembali kejemaat lain, dan di jemaat Kertorejo dilayan oleh Bapak pendeta Prasojo pada tahun 1960 s/d 1966. Pada tahun 1966 khususnya mengalami perkembangan yang cukup signifikan, ini semua adalah hasil dari pengkabaran injil yang dilakukan oleh komisi pengkabaran injil ditahun-tahun sebelumnya, yaitu sebelum G.30.S/PKI meletus. Khususnya di Mojotengah, hasil penginjilan didaerah itu akhirnya membuat banyak warga mojotengah minta di permandikan atau dibaptiskan. Namun karena Mojotengah termasuk wilayah kecamatan Mojowarno, maka jemaat Kertorejo pelayanannya diserahkan kepada jemaat Kertorejo hingga sampai sekarang. Kemudian dalam selang waktu yang tidak lama telah dilaksanakan pelayanan Baptisan Kudus secara masal, yang meliputi hampir seluruh warga penduduk dusun Ganjul dan dusun Kertorejo. Kemudian sekitar tahun kurang lebih 1970-an banyak warga yang berasal dari Gothehan, wilayah kecamatan Wonosalam, secara bersama-sama minta pelayanan katakisasi, juga pelayanan babtisan kudus yang diikuti kurang lebih 74 orang, dan pelayanannya diserahkan kepada jemaat Ngoro. Kemudian kira-kira pertengahan tahun 1966-an Bapak Pendeta Prasojo dipindah tugaskan lagi kejemaat lain, dan digantikan oleh Vikar bapak Luwarso. Kurang lebih satu tahun (+ l tahun) bapak Luwarso menjalalnkan tugas ke vikarisannya di jemaat Kertorejo, baru kemudian ditabiskan menjadi seorang pendeta. Pentabisan serta penempatan tugas pelayanannya pun masih tetap di jemaat Kertorejo hingga sampai tahun 1976. Dalam melaksanakan tugas pelayanannya di jemaat Kertorejo, beliau tidak berbeda dengan pendeta-pendeta sebelumnya karena dia juga tidak mau tinggal atau menempati rumah kepandhitan yang sudah disiapkan oleh warga itu dikarenakan rumah kapanditan tersebut dikiri-kanannya masih banyak ditumbuhi pohon bambu, lebih-lebih dibelakanya, yang akhirnya membuat rumah itu kelihatan sedikit menyeramkan. Apalagi dengan ditambahnya isu- isu yang telah beredar diwarga jemaat, yaitu sebualh rumor yang mengatakan bahwa dirumah kepanditan banyak hantunya. Mungkin itulah salalh satu diantaranya, yang menyebabkan bapak pendeta tidak mau tinggal disitu, dan beliau lebih senang memilih tinggal dirumah warga, yaitu di rumah Ibu Drio. Melihat hal yang demikian ini warga jemaat sangat menyadari sekali, apalagi waktu itu listrik memang belum masuk desa, ditambah lagi dengan lampu penerangan yang kurang cukup memadai, sehingga membuat keadaan menjadi tambah menyeramkan. Meskipun menghadapi hal yang demikian, Bapak pendeta Luwarso tidak menjadi kendor semangat tugas pelayannya, justru beliau semakin rajin dan senantiasa pro aktif dalam menjalankan tugas-tugasnya. Kunjungan-kunjungan ke beberapa warga yang kelihatannya lama sekali tidak ke gereja itu sering sekali dia lakukan, sehingga hubungan antara warga jemaat dengan seorang pendeta begitu dekat serta kelihatan sangat harmonis sekali. Melalui musyawarah bersama dengan para sesepuh jemaat dan juga para majelis, jemaat Kertorejo memutuskan untuk membeli sebidang tanah disebelah barat jalan raya persis didepan gereja dan tanah tersebut rencananya akan diperuntukkan untuk membangun / mendirikan sebuah yayasan Kristen (YBPK) yang bergerak dibidang pendidikan, yaitu Sekolah Dasar Kristen (SDK)
Kemudian pada awal tahun 1968-an, jemaat Kertorejo mulai medirikan / membangun sebuah gedung sekolah dasar Kristen (SDK) serta mendaftarkan yayasan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Pihak dinas pendidikan dan kebudayaan justru menyambutnya dengan sangat baik sekali. dengan bukti diberinya, beberapa bantuan tenaga pengajar/beberapa guru yang statusnya pegawai negeri. Setelah yayasan mengantongi izin dari pihak Depdikbud, segeralah membuka pendaftaran, penerimaan siswa baru dan dimulai pada awal tahun 1974. Melihat hal demikian ini warga sangat senang sekali, sehingga hampir separo masyarakat desa Kertorejo berbondong-bondong untuk segera mendaftarkan anak-anaknya masuk disekolah dasar yang dikelola oleh jemaat Kertorejo ini. Baik itu warga Kristen sendiri maupun warga non Kristen. Lebih-lebih masyarakat dusun Pathuk yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam, mereka lebih senang bahkan hampir semua warga Pathuk menyekolahkan anak-anaknya ke Sekolah Dasar Kristen (SDK), mereka tidak sama sekali membedakan agama, yang penting bagi mereka, anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan lebih baik dari pada orang tuanya. Kemudian lain dari pada itu semua, tepatnya pada tanggal 1 April 1972 jemaat Kertorejo mempunyai gawe besar, yaitu menikahkan bapk pendeta Lumarso dengan cucu dari mbah Drio Mestopo. Pernikahan itu sendiri berjalan dengan penuh hikmat, dan sangat terasa seklai nuansa adat istiadat budaya jawanya. Karena semua warga dengan di koordinir para majelis saling bahu membahu, Sa’iyek Sa’ekoproyo untuk memberikan bantuan atau sumbangan buat keperluan serta kelancaran jalannya pernikahan tersebut, baik itu konsumsinya, dekornya dan lain sebagainya, sumbangan itu bermacam-macam ada yang berupa beras, ada yang berupa gula, teh, daging dan lain sebagainya, bahkan ada juga yang berupa uang. demi seorang abdi Tuhan. Memang dalam bimbingan bapak pendeta Lumarso jemaat Kertorejo semakin berkembang menjadi lebih baik, lebih-lebih SDK. Dalam perjalanan selanjutnya justru mendapat perhatian dari beberapa yayasan Kristen yang ada di Jawa Timur, seperti yayasan PETRA di Surabaya. Setiap tahun SDK menerima bantuan atau sumbangan dari PETRA Surabaya, berupa seperangkat alat olahraga dan kelengkapan belajar mengajar, seperti buku tulis, pensil dan lain sebagainya. Waktu terus berlalu, dan tahun juga terus berjalan, hingga sampailah pada tahun 1976, tepatnya pada bulan oktober Beliau (Pendeta Luwarso) harus menghadapi kenyataan pahit, karena dia harus meninggalkan jemaat Kertorejo, yaitu jemaat yang sangat dicintainya, begitu juga warga disaat mengadakan acara perpisahan dengan Beliau, mereka banyak yang terharu dan menangis, tetapi apa boleh buat, demi pelayanan mereka semua akhirnya menyadari dan merelakan bapak pendeta Lumarso dipindah tugaskan ke jemaat lain oleh Majelis Agung. Selanjutnya di Kertorejo dilayani oleh seorang vikaris, yaitu Bapak Porwoto, beliau dalam menjalankan tugas pelayanannya di jemaat Kertorejo, hanya kurang lebih satu (1 tahun) tahun. Dan digantikan oleh bapak Prasetyo Rasmo pada tahun 1977, status beliau juga seorang vikaris. Baru kemudian, setelah satu tahun vikar. Dia ditetapkan sebagai seorang pendeta, ditabsikan di jemaat Kertorejo serta melayani sampai pada tahun 1989. seperti pendeta sebelumnya Bapak Pendeta Prasetyo Rasmo juga tidak mau menempati rumah kepanditan dan memilih tinggal di rumah warga. Menghadapi hal yang demikian ini, jemaat kertorejo melalui para majelisnya bermusyawarah untuk mengambil keputusan, diantaranya yaitu:
Memutuskan untuk membongkar rumah kepanditan, dan membangunnya kembali disebelah barat jalan raya didepan gereja.
Menebang pepohonan yang tumbuh dikiri-kanan dan belakang gereja, agar gereja tidak kelihatan suram, sehingga menjadi lebih baik.
Mengambil kesepakatan bersama, yaitu untuk menyekolahkan anak- anaknya ke SDK, tidak kesekolahan lain, dengan maksud dan tujuan agar SDK bisa berkembang dengan baik.
Membuat kereta mayat, dengan tujuan untuk memudahkan pemberangkat- an mayat dari rumah duka menuju ke pemakaman
Setelah semua keputusan tadi di sosialisasikan kepada jemaat melalui warta jemaat di gereja dan kemudian secepatnya direalisasikan. Hanya satu yang memang tidak bisa direalisasikan secepat itu, yaitu pembangunan kembali rumah kepanditan, karena memang memerlukan dana yang tidak sedikit, meskipun demikian warga tetap bersemangat untuk secepatnya bisa mewujud nyatakan suatu keputusan yang sudah menjadi keputusan bersama. Dengan dikoordinir panitia pembangunan warga jemaat saling memberi bantuan. Sesuai dengan talenta mereka masing-masing. Demi kelancaran pembangunan rumah kepanditan tersebut. Sebelum pembanunan atau peletakan batu pertama dimulai, terlebih dulu bapak Pendeta Prasetyo Kasmo melangsungkan pernikahannya pada bulan Mei 1979 dengan saudari Ismiati dari dusun Jombatan. Baru kemudian pada bulan November ditahun yang sama dan di perkirakan semua bahan tercukupi, barulah peletakan batu pertama untuk rumah kepanditan dimulai. Semua warga bersatu sebagaimana mestinya orang jawa bila mau mendirikan rumah, yaitu ada yang menjadi tukang, baik tukang kayu maupun tukang batu ada juga yang menjadi kuli, semua dikerjakan bersama-sama secara gotong royong tanpa imbalan. Setelah rumah kepanditan selesai barulah diresmikan dan ditempati oleh bapak Pendeta Prasetyo Rasmo pada tanggal 1 Agustus 1980. Dunia terus berputar dan zaman terus berubah sehingga membuat masyarakat semakin kritis dalam berfikir, selanjutnya banyak sekolah- sekolahan yang berdiri, berteberan diberbagai daerah termasuk di desa Kertorejo, baik itu yang dikelola oleh yayasan swasta maupun pemerintah. Inilah yang membuat SDK yang dikelola oleh jemaat Kertorejo menjadi tidak laku lagi dimasyarakat, baik oleh warga Kristen sendiri, dan lebih-lebih warga non Kristen. Sehingga lambat laun SDK tutup dikarenakan tidak ada siswanya, itu diperkirakan berlangsung pada tahun 1990. Begitu juga dengan Pendeta Prasetyo Rasmo, setelah selama 13 tahun bertugas dijema’at Kertorejo akhirnya beliau dipindah tugaskan lagi ke jemaat lain, yaitu pada tahun 1990. Dan jemaat Kertorejo untuk sementara waktu mengalami kekosongan pendeta. Selama tidak ada pendeta jemaat Kertorejo di konsuleni seorang pendeta dari gereja Ngoro yaitu Bapak pendeta Guntur, dan itu berlangsung selama tiga (3) tahun. Dan kemudian pada tanggal 19 Juli 1992, baru diisi oleh pendeta Widayat Misro, yaitu seorang pendeta yang memang kelahiran Kertorejo yang sebelumnya bertugas di jemaat Probolinggo. Beliau lahir pada tanggal 12 Juli 1942 mempunyai istri yang bernama Widiarti, dan mempunyai 3 orang anak, dua (2) laki-laki, satu (1) perempuan. Selama menjalankan tugas kepelayanannya di jemaat Kertorejo Beliau tinggal di rumah kepanditan, sebagaimana halnya pendeta Prasetyo Rasmo, hingga sampai habis masa tugasnya. Dalam perjalanan selanjutnya Bapak Pendeta Widayat Misro, terus bergumul untuk mencari solusi terbaik, buat meningkatkan kualitas warga dalam ibadah minggu, melalui kajian dan pertimbangan yang matang beliau bersama para penetua serta diaben jemaat memutuskan, yaitu membagi ibadah minggu menjadi dua (2) session atau dua bagian. Bagian pertama dimulai pada pukul 06.00 WIB, sedangkan bagian kedua dimulai pada pukul 08.30 setelah ibadah KPAR (Ibadah Anak dan Remaja) dan mulai dilaksanakan pada minggu pertama (1) dibulan juli 1995. Setelah ibadah minggu dilaksanakan dua (2) kali, ternyata banyak sekali peningkatannya, warga yang hadir untuk mengikuti ibadah meningkat antara 40% – 50%. Berikutnya pada tahun 1994 Gereja Kertorejo berusaha untuk semakin mempercantik diri, bersama panitia pembangunan gereja jemaat memutuskan, segera membongkar dan membangun kembali pagar gereja menjadi lebih baik, yang bahannya terbuat dari batu bata, tidak seperti semula, bahan terbuat dari bahan bambu. Begitu pembangunan pagar selesai, langsung diteruskan dengan membangun tempat parkiran sepeda.
Kemudian pada tanggal 2 Pebruari 2002 jemaat telah membeli satu (1) inventaris untuk pendeta yaitu berupa sepeda motor Honda. Suprafit selanjutnya pada tahun yang semula memang terbuat dari semen biasa, dan diganti dengan keramik, ini semua karena bimbingan dan arahan bapak pendeta Widayat Misro, akan tetapi begitu berumur 60 tahun baru di Emiritus dari tugas pelayanannya sebagai pendeta aktif. yaitu pada tanggal 1 Nopember tahun 2002. Kemudian tugas pelayanan di jemaat Kertorejo, selanjutnya diserahkan kepada Bapak Pendeta Sedijadji yaitu mulai pada tanggal pelantikannya 10 Nopember 2002 hingga sampai sekarang. Dibawah bimbingan dan arahan bapak pendeta Sedijadji, jemaat Kertorejo semakin berusaha untuk tampil lebih baik. Terbukti pada tanggal 3 April 2003 melalui musyawarah, bersama para majelis dan panitia pembangunan yang dipandu langsung oleh Bapak Pendeta sendiri, memutuskan yaitu :
Merenofasi gedung gereja dan menambahi sedikit bangunan baru didepannya (memberi joglo)
Membongkar dan membangun kembali kantoran gereja, yang memang sudah tidak baik lagi (jelek).
Mengganti atap gereja dengan atap yang baru (genteng karang pilangan) karena yang lama sudah pada bocor. Pada tanggal 10 Juni 2003 baru rencana yang tersebut diatas direalisasikan, warga secara bersama-sama bergantian menurut kelompoknya masing-masing. Bergotong-royong, saling bahu membahu, untuk membongkar, menurunkan atap gereja, kemudian membangun dan menggantinya dengan yang baru. Ini semua tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit, meskipun demikian warga tidak menjadi surut semangatnya, mereka justru lebih bersemangat, mereka berinisiatif untuk menggalang dana bersama-sama. Akhirnya dengan dikoordinir ketua kelompok masing-masing warga bersama-sama pula mengumpulkan dana dengan cara sukarela, demi untuk pengadaan bahan bangunan. Dalam pelaksanaannya ternyata lebih dari apa yang diharapkan, karena ternyatawarga tidak hanya mengumbang dana saja, akan tetapi, yang banyak sumbangan warga yang berupa non dana, diantaranya seperti: pasir, kayu, semen, paku, plafon, cat, bahkan tenaga ahli juga konsumsi yang disajikan setiap hari bergantian menurut kelompoknya masing-masing, mulai dari kelompok Simon Petrus, kelompok Paulus, Debora, Yokanan, dan kembalike kelompok Simon Petrus. begitu seterusnya sampai renovasi gereja selesai.
Sementara gereja di renovasi, ibadah minggu dipindahalihkan ke gedung bekas SDK yang sudah lama dikosongkan sampai renovasi gereja selesai. yaitu pada tanggal 29 Nopember 2003. Bapak pendeta Sedijadji adalah seoran pendeta yang cukup berdisiplin tinggi dalam melaksanakan tugas kepelayanannya, setelah kurang lebih tiga (3 thn) tahun melaksanakan tugas tambahan dari Majelis Daerah Surabaya Barat. Dengan dikukuhkannya menjadi seorang pendeta konsulen di jemaat Wungurejo, kecamatan Bareng kabupaten Jombang, yaitu pada bulan Nopember 2005. Dengan demikian beliau memangku dua (2) jabatan, selain menjadi pendeta di jemaat Kertorejo juga menjadi pendeta konsulen di jemaat Wungurejo hingga sampai sekarang. ( Saat buku ini di tulis 8 Juni 2006 )
BAB IV PENUTUP Demikianlah sejarah singkat Gereja Kristen Jawi Wetan Jemaat Kertorejo, yang bisa kami sampaikan dalam bentuk buku seperti ini dengan harapan agar ini semua benar-benar bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan. Lebih-lebih/terutama buat menambah perbendaharaan sejarah GKJW dijawa timur. Perlu diketahui bersama, bahwa buku ini kami tulis berdasarkan fakta, dan pelaku/saksi sejarah yang bisa dipercaya. Oleh karena itu perkenankanlah, pada kesempatan ini kami mengucapkan puji syukur kepada Tuhan serta terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
Bapak Pendeta Emiritus Widayat Misro
Bapak Pendeta Sedijadji Smth.
Bapak Saibo
Bapak Setiyono
Bapak Widi Asmoro
Ibu Widiyastuti Mestoko Dan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan/dorongan, serta saran bahkan fasilitas demi terciptanya buku ini. Tuhan Yesus memberkati kita semua, Amien.
Kertorejo 8 Juni 2006
Penulis
By : Sudarmaji
BIODATA PENULIS Nama : SUDARMAJI Tempat/Tgl. Lahir : Jombang, 17-12- 1966 Lulus Sekolah: SD tahun 1980 Lulus SMP tahun 1983 Lulus SLTA tahun 1986 Perguruan tinggi Universitas Balik Papan ( UNIBA )(Kal-Tim) jurusan Sastra Inggris pada tahun 1990. Sedangkan prestasi yang pernah diraih yaitu pernah menjadi juara II pemuda pelopor tingkat kabupaten tahun 1994. ( Kabupaten Tabalong Kal – Sel ) Dan beberapa jabatan yang pernah diduduki dalam organisasi :
9 “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. 10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. 11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. 12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. 13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. 14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. 15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. 16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”
Saudaraku yang di berkati Tuhan, pada hari Rabu kemarin kebetulan saya di minta melayani ibadah syukur di pepanthan Gudo tepatnya di rumahnya Mas Noldy awuy dan Mbak Erna…..pada kesempatan itu saya sampaikan, bahwa Alkitab kita ini adalah merupakan falsafah atau pandangan hidup orang orang yang percaya pada Yesus, yang artinya Alkitab itu adalah pinjakan hidup, atau dasar hidup orang yang beriman pada Yesus….Alkitab itu adalah pondasi hidup dan kehidupan orang orang kristen, dan yang bertumpu pada Kristus Yesus.
Dan Yesus itu siapa…??? Menurut kita, Kristus itu juru selamat, sang penolong, penebus dosa yang mampu menghantarkan kita masuk ke sorga…. Betul…???
Akan tetapi menurut orang lain di luar keyakinan kita, Yesus itu hanya seorang nabi, ( nabi Isa atau Isa Al-Masih ) tidak lebih dari itu, Tetapi ingat saudara, bahwa nabi itu adalah wakil Tuhan di bumi.
Akan tetapi Nabi Isa Almasih, yang tidak lain adalah Yesus Kristus Tuhan, yang kita yakini dan imani, sebagai juruslamat, itu mempunyai kuasa penuh dunia dan isinya, termasuk mempunyai kuasa penuh atas kehidupan saudara dan saya. Yesus Kristus Tuhan, itu mempunyai 12 rasul bapak dan ibu, salah satu di antaranya adalah rasul Yohanes, yang kita kenal dengan sebutan Yohanes pembaptis. Yohanes pembaptis ini adalah seorang rasul yang beda dengan rasul rasul yang lain, dia ini seorang teolog yang handal sekaligus penulis, dia adalah rasul yang paling sering menerima Wahyu dari Allah. Dan Allah mengutus Yohanes wahyuNya itu di sampaikan kepada beberapa jemaat kala itu, dan juga termasuk kepada kita semua saat ini.
Malam hari ini Yohanes, menyampaikan Wahyu dari Yesus, kepada kita, yaitu sebuah perintah, agar kita bisa hidup untuk saling mengasihi satu dengan yang lain.
Bacaan kita malam ini adalah merupakan salah satu Wahyu dari Tuhan, yang di tujukan kepada kita melalui rasul Yohanes. Wahyu tuhan agar kita bisa hidup saling mengasihi, itu adalah merupakan bukti kepedulian Tuhan kepada umatNya. Bukti kepedulian Tuhan kepada hidup dan kehidupan saudara dan saya. Tuhan Yesus menghendaki setiap orang yang percaya padaNya senantiasa hidup penuh dengan suka cita dan damai sejahtera tera,..
Karena itu pesan Yesus Tuhan melalui Yohanes 15 : 9 – 17 Agar kita hidup saling mengasihi. Sebab dengan hidup saling mengasihi, suka cita kita menjadi penuh.
Saudaraku yang berbahagia, kasih itu memang perekat, dalam membangun sebuah kehidupan, baik hidup bergereja, berjemaat maupun bernegara. Karena kasih itu panjang sabar, kasih itu lemah lembut, kasih itu rendah hati, kasih itu tidak sombong.
Memang kalau kita bicara tentang kedamaian, tidak bisa lepas dari kasih. Karena percuma kita bicara kedamaian kalau kasih tidak pernah ada di hati. Percuma bicara kasih, kalau kita masih sering marah marah dengan nak dan istri… Percuma berbicara kasih kalau kita tdk bisa mengesampingkan kepentingan pribadi dari pada kepentingan bersama….
Jadi dengan demikian saudara, mari kita bersama sama memprioritaskan kasih, dari pada kepentingan pribadi demi kedamaian dan kebersamaan hidup bersama sama ciptaan ilahi. Dengan demikian penuh lah sukacita kita, seperti harapan Yesus Kristus Tuhan kita….Amien
Gembala yg baik, rela berkorban demi kedamaian dan keadilan sosial
Ciri Khas GKJW A. GKJW sebagai Gereja Teritorial
GKJW telah menetapkan bahwa keberadaannya hanya dibatasi di Jawa Timur. Sehingga tidak akan dijumpai adanya GKJW di luar Jawa Timur. Hal ini sesuai dengan isi Tata dan Pranata GKJW. Untuk jelasnya dikutipkan bunyi ketentuan itu, “Greja Kristen Jawi Wetan adalah bagian dari Gereja yang Esa, yang dilahirkan, ditumbuhkan dan dipelihara oleh Tuhan Allah, Yesus Kristus dan Roh Kudus di Jawa Timur” (hal. 2). Ini berarti sekalipun ada banyak (ratusan atau bahkan ribuan) warga GKJW berpindah tempat tinggal ke luar Jawa Timur, misalnya ke Pulau Sulawesi, maka mereka akan menjadi anggota gereja di tempat di mana mereka tinggal.
GKJW tidak akan membuat cabang atau perwakilan ditempat itu. Hal ini karena GKJW ingin menghormati keberadaan gereja di tempat lain. Selain itu, kalau warga tersebar di tempat yang relatif amat jauh secara geografis maka secara teknis akan sulit mengaturnya.
B. GKJW sebagai Gereja Gerakan Warga
Sejak awal pertumbuhannya peranan kaum awam di GKJW sangat besar. Tokoh-tokoh yang menonjol dalam pertumbuhan GKJW bukanlah para teolog atau para pendeta atau Guru Injil yang telah dipersiapkan dengan bekal pemahaman teologi yang cukup, melainkan mereka adalah orang awam yang setia kepada perintah Injil. Melalui cara hidup dan pergaulan mereka dengan banyak orang-lah injil dikomunikasikan. Bandingkan dengan isi Injil Matius 5 (panggilan agar orang-orang percaya dapat menjadi garam dan terang dunia). Ayat ini rupanya amat dihayati dan sekaligus menjadi jiwa dari kehidupan warga jemaat sehingga melalui cara hidup mereka injil dapat diberitakan.
Keadaan seperti di atas berjalan sampai dengan saat ini. Dan salah satu kegiatan yang amat menunjang terpupuknya kondisi GKJW sebagai gereja gerakan warga adalah adanya ibadat patuwen (ibadat keluarga/ ibadat rumah tangga). Dalam Ibadah Rumah Tangga (IRT) ini warga satu dengan warga lainnya merasa saling mendapat perhatian dan penguatan. Adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi warga jemaat kalau rumah tempat tinggalnya dipakai untuk tempat IRT. Sehingga seringkali melalui IRT itu warga jemaat menyampaikan persembahan ucapan syukurnya. Dalam kenyataannya memang IRT ini amat mendukung kekentalan ikatan persaudaraan bahkan kekeluargaan di antara warga jemaat. Kegiatan ini ternyata memang menjadi sarana yang baik untuk semakin terpeliharanya iman dan kehidupan warga jemaat. Sehingga kalau ada warga jemaat yang tidak pernah datang ke ibadah patuwen, jelas hanya ada beberapa kemungkinan. Pertama, karena kesibukan kerja, tentang hal ini dapat dimaklumi. Kedua, warga jemaat yang memang tidak memperhatikan kehidupan imannya, dalam arti hidupnya tidak bisa menjadi garam dan terang dunia.
Anggota majelis jemaat dan juga warga jemaat di wilayah atau kelompok biasanya mempunyai program untuk menarik dan mengajak warga jemaat yang meremehkan IRT agar mau kembali mengentalkan ikatan persaudaraan dan kekeluargaan dengan warga jemaat lainnya. Diharapkan dengan kehadiran dan keterlibatan di IRT atau kegiatan lainnya, maka sedikit demi sedikit cara hidupnya ikut diperbaharui pula.
C. Lima bidang pelayanan di GKJW
GKJW Melengkapi diri dengan 5 bidang pelayanan yaitu:
Bidang Teologi
Bidang Persekutuan
Bidang Kesaksian
Bidang Pelayanan Cinta Kasih
Bidang Penatalayanan
D. “Struktur” Pelayanan GKJW
Istilah “struktur” di GKJW memang tidak begitu populer, karena istilah itu dipandang dari sudut gerejawi mengandung kelemahan, yaitu mengandaikan adanya susunan hirarkhis (adanya unsur atasan dan bawahan). Oleh karena itu kata struktur dalam subjudul di atas ditulis dengan tanda kutip, dengan maksud menunjuk pada semacam tata kerja roda organisasi GKJW dijalankan. Dalam hal “struktur” pelayanannya, GKJW menampakkan diri dalam bentuk persekutuan-persekutuan. Ada tiga macam persekutuan yang terdapat di GKJW, yaitu:
1) Persekutuan se-Tempat
Persekutuan ini juga disebut sebagai Jemaat (persekutuan yang dewasa dari warga di suatu tempat yang mampu memenuhi panggilan dan melaksanakan kegiatan pelayanan), misalnya: Jemaat Sitiarjo, Jemaat Ngawi. Pada tingkat persekutuan ini penanggung jawab semua kegiatan pelayanan adalah Majelis Jemaat. Majelis Jemaat biasanya memilih beberapa orang untuk duduk dalam Pelayan Harian Majelis Jemaat (PHMJ). PHMJ inilah yang menjadi pelaksana harian dari tugas kemajelisan. Jabatan di PHMJ adalah sama dengan jabatan pada majelis Jemaat. Contohnya, Ketua Majelis Jemaat adalah juga ketua PHMJ, demikian pula jabatan lainnya.
Untuk mempertajam pelaksanaan program dan memberdayakan warga jemaat, maka Majelis Jemaat dalam melaksanakan lima bidang pelayanan dibantu oleh komisi-komisi pembinaan atau kepanitiaan untuk suatu kegiatan tertentu.
Dalam buku Tata dan Pranata GKJW disebutkan bahwa majelis jemaat sedikitnya sekali dalam tiga bulan mengadakan Sidang Majelis. Sedangkan Pelayan Harian Majelis Jemaat sedikitnya sekali dalam dua minggu mengadakan rapat. Tentunya ketentuan ini semata-mata ditujukan agar pelayanan yang dilakukan benar-benar dapat semakin mendekati apa yang dikehendaki oleh Tuhan yang memiliki Gereja. Keputusan Sidang Majelis Jemaat adalah merupakan keputusan tertinggi di tingkat jemaat. Jadi apa yang telah diputuskan oleh Sidang Majelis Jemaat tidak dapat dibatalkan oleh rapat PHMJ. Pembatalan hanya bisa dilakukan oleh Sidang Majelis Jemaat.
2) Persekutuan se-Daerah
Persekutuan ini adalah persekutuan warga GKJW di dalam suatu daerah, yang terdiri dari beberapa jemaat. Penataan pelayanan pada persekutuan se-Daerah ini diatur oleh Majelis Daerah, contohnya: Majelis Daerah Malang 1, Majelis Daerah Besuki Timur. Dalam pelaksanaan kegiatan sehari-harinya Majelis Daerah melimpahkan kepada Pelayan Harian Majelis Daerah. Mengapa demikian? Karena Majelis Daerah dalam setahun hanya bersidang sebanyak 2 (dua) kali. Sedangkan Pelayan Harian Majelis Daerah sedikitnya mengadakan rapat sekali dalam dua bulan. Dalam prakteknya bisa sekali sebulan, bahkan lebih mengingat tingkat kegiatan yang semakin padat. Sidang Majelis Daerah merupakan forum tertinggi pengambilan keputusan tertinggi untuk lingkup daerah.
Sebagaimana di lingkup Jemaat, maka di lingkup Majelis Daerah ini pun Pelayan Harian Majelis Daerah dibantu oleh Komisi-komisi Pembinaan Daerah untuk merealisasikan ke-lima bidang pelayanannya. Saat ini di GKJW terdapat 12 Majelis Daerah, yaitu meliputi: Surabaya Timur I, Surabaya Timur II, Surabaya Barat, Malang I, Malang II, Malang III, Malang IV, Kediri Utara, Kediri Selatan, Besuki Barat, Besuki Timur, Madiun.
3) Persekutuan se Jawa Timur
Persekutuan ini adalah persekutuan warga GKJW di seluruh Jawa Timur. Inilah yang disebut dengan GKJW, yang meliputi jemaat-jemaat se Jawa Timur. Penanggung jawab penataan dan pelayanan GKJW adalah Majelis Agung GKJW. Dalam kegiatan sehari-harinya dijalankan oleh Pelayan Harian Majelis Agung. Sedangkan pelaksanaan program untuk kelima bidang pelayanannya dilakukan oleh Dewan-dewan Pembinaan. Sama dengan di jemaat, jabatan di Majelis Agung adalah sama dengan jabatan di Pelayan Harian Majelis Agung.
Pada lingkup persekutuan inilah GKJW juga menjalin kerjasama secara oikumenis dengan berbagai gereja baik di Indonesia maupun di luar negeri. Bahkan sudah sejak lama GKJW mengembangkan pergaulannya secara lebih programatis dengan lembaga keagamaan lain.
Struktur di atas tidak bersifat hirakhis (Majelis Agung tidak lebih tinggi daripada Majelis Daerah atau Majelis Jemaat, dan sebaliknya), melainkan satu sama lain berhubungan sebagai persekutuan yang menyatu dalam semangat “Patunggilan kang Nyawiji” yaitu Greja Kristen Jawi Wetan.
D. Mekanisme Pembuatan Program Kegiatan.
Langkah pertama adalah mengikuti ketentuan dari Majelis Jemaat tentang “Arah dan tujuan” yang akan dilakukan pada tahun (beberapa tahun) yang akan datang. Dalam rangka menentukan “Arah dan tujuan” kegiatan yang akan datang Majelis Jemaat mempergunakan hasil rembug warga sebagai salah satu acuannya. Setelah ditemukan “Arah dan tujuan” tersebut, kemudian PHMJ/MJ bersama dengan Komperlitbang mengadakan pertemuan koordinatif dengan komisi-komisi. Isi pertemuan itu adalah untuk menjelaskan tentang apa yang akan dilakukan dan diharapkan oleh Majelis Jemaat (setelah menampung hasil rembug warga). Semua konsep kegiatan tahun yang akan datang yang telah diselesaikan oleh komisi kemudian digodog oleh PHMJ bekerjasama dengan komperlitbang. Hasil dari penggodogan ini lalu dibawa ke persidangan Majelis Jemaat untuk didalami sekali lagi, baru kemudian disahkan.
Tentang GKJW Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) adalah gereja teritorial yang dilahirkan, ditumbuhkan dan dipelihara oleh Tuhan Allah, Tuhan Yesus dan Roh Kudus di Jawa Timur.
GKJW adalah bagian dari Gereja yang Esa. Meski hanya berada di wilayah Jawa Timur, hal itu tidak berarti GKJW hanya memperhatikan lingkup provinsi ini saja karena panggilan Tuhan tidak mengenal batas-batas wilayah maupun waktu.
Warga GKJW berdomisili di wilayah perkotaan dan pedesaan Jawa Timur mulai Ngawi di ujung barat sampai Banyuwangi di ujung timur. Mereka terhimpun dalam 180 jemaat dan 15 majelis daerah dalam semangat “Patunggilan kang Nyawiji” .
Bacaan Yohanes 10:11-18. 11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; 12 sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. 13 Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. 14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku 15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. 16 Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. 17 Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. 18 Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”
Berkorban demi terwujudnya perdamaian dan keadilan sosial
Saudaraku yang di kasihi oleh Tuhan kita Yesus Kristus, bacaan sebagai bahan perenungan kita hari ini, seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu berasal dari perjanjian Baru, dari Injil Yohanes 10:11-18. Dengan thema gembala yang baik.
Saudaraku terkasih, Injil itu mempunyai arti sebagai kabar sukacita, suatu berita yang sangat menggembirakan. Kemudian kenapa disebut Injil Yohanes, karena banyak pendapat yang mengatakan bahwa Injil Yohanes ini di tulis oleh Yohanes. Dan Yohanes itu adalah salah satu dari ke 12 rasul kristus, pengertian rasul disini adalah orang yang mendapatkan Wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada manusia. Atau bisa juga dikatakan bahwa rasul itu adalah utusan Tuhan…..
Hari ini Yohanes, yang nota bennya adalah salah satu rasul Kristus, menyampaikan Wahyu, atau berita suka cita dari Tuhan, yaitu yang berisi suatu pernyataan Kristus Yesus, yang menyatakan dirinya adalah seorang gembala yang baik. Pernyataan ini disampaikan dua kali oleh Yesus, dalam bacaan hari ini, yaitu pada ayat 11 dan ayat 14. Disini jelas bahwa Tuhan Yesus ingin menegaskan, agar bangsa Israel, agar umat manusia termasuk saudara dan saya, tahu dan juga mengerti dengan sungguh, bahwa tidak ada satupun gembala yang baik di dunia ini kecuali Yesus.
Umat Tuhan yang berbahagia, gembala, ada beberapa pengertian tentang gembala :
1. Gembala itu adalah juru pangon, orang yang pekerjaannya ngopeni atau memelihara ternak..
2. Gembala juga bisa disebut sebagai penjaga keselamatan orang banyak.
Dan gembala yang baik itu mempunyai dua ciri bapak dan ibu :
1. Gembala yang baik itu rela berkorban, bahkan rela mengorbankan nyawanya demi domba dombanya.
2. Gembala yang baik itu tahu dan mengenal dengan baik domba dombanya.
Saudaraku yang berbahagia, sebagai gembala yang baik, Tuhan Yesus rela mengorbankan hidupnya di atas kayu salib, itu semua demi keselamatan dan kebahagiaan domba dombanya, termasuk demi keselamatan setiap orang yang percaya padaNya, juga demi hidup saudara dan saya.
Karena itu saudara bagi orang yang sudah yakin dan percaya, beriman pada Yesus Kristus sebagai juru slamat, tidak ada alasan untuk tidak bahagia, tinggal bagai mana kita bisa memaknai arti dari pengorbanan dan kasih setia Tuhan yang sudah kita rasakan dalam hidup ini.
Ringan dan beratnya beban hidup di dunia ini sebenarnya tidak tergantung pada Tuhan bapak dan ibu, akan tetapi tergantung pada manusia itu sendiri, tergantung pada diri kita sendiri sendiri. Kenapa demikian,…jawabannya ya…memang demikian, Karena Allah bapa didalam Yesus Kristus sudah berfirman,… ” Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu “. ( Mat 11:28 ). Ini bukti nyata jaminan Tuhan Yesus terhadap setiap kehidupan umatNya, yang percaya dan mau datang kepadaNya.
Karena itu saudara, apapun keadaan kehidupan saudara, sehina apapun kehidupan. Semiskin apapun hidup saudara didunia ini, janganlah takut, bimbang dan jangan gentar hatimu….karena hidup saudara 100% dijamin oleh Tuhan Yesus. Yesus tahu, Yesus mengerti setiap jeritan hati umatNya, Tuhan tahu setiap tetesan airmata anak anakNya….dan tangan tuhan tidak kurang panjang, pasti menjamah, mengangkat….memberkati, mencukupi setiap kebutuhan hidup umatNya. Memang saudara, kadang kita yang kurang menyadari, bahwa sebernya tuhan itu sudah dan terus sedang menyertai menolong juga memimpin setiap langkah hidup kita. Dan itu nyata, sampai detik ini kita tetap merasakan menghirup udara pemberian Tuhan……
Karena itu saudara ku terkasih, marilah kita maknai dengan baik, kita rasakan secara mendalam, pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib itu. Kita hayati dengan baik kasih setia Tuhan Yesus itu, dan sama sama, mari wujutnyatakan kasih itu dalam setiap langkah hidup kita didunia ini dengan baik.
Sebagai orang yang telah diberkati, diselamatkan oleh darah Yesus, kita juga dituntut untuk berani berkorban. Sebagai domba peliharaan Tuhan kita juga berkewajiban untuk terus menjaga dan memelihara kedamaian dan keadilan sosial di manapun kita tinggal….di dunia ini, kita harus berkontribusi, berteloransi antar sesama, tidak membedakan setatus sosial dan agamanya apa.
Dan kalau ini bisa kita lakukan, kita terapkan dalam setiap langkah hidup kita, tentu hidup kita akan bahagia, hidup bersama dengan sesama. Saudara, kiranya sedikit renungan ini boleh menambah, dan menyemangati kita untuk hidup saling menghargai satu dengan yang lain sebagai bukti bahwa kita adalah anak anak Allah. Tuhan Yesus memberkati….Amien.
Rasa adalah bahasa yang paling universal dan paling pribadi. Setiap orang memiliki rasa yang berbeda-beda, meskipun berasal dari pengalaman yang sama. Rasa dapat muncul dari apa yang kita lihat, dengar, sentuh, atau alami. Sebuah rasa bisa sederhana seperti rasa lapar atau haus, atau kompleks seperti rasa cinta atau rindu.
Rasa juga bisa menjadi jendela yang membuka ke dalam jiwa seseorang. Melalui rasa, kita dapat memahami lebih dalam tentang apa yang kita inginkan, takuti, atau bahkan butuhkan. Rasa adalah cara alam semesta berbicara pada kita, memberi tahu kita tentang apa yang sebenarnya penting.
Namun, terkadang kita lupa untuk mendengarkan rasa-rasa itu. Kita sibuk dengan rutinitas sehari-hari, terjebak dalam kekhawatiran masa depan, atau terlarut dalam kenangan masa lalu. Akibatnya, kita mungkin melewatkan pesan-pesan yang ingin disampaikan oleh rasa-rasa itu.
Menghargai sebuah rasa bukanlah tentang memiliki jawaban atau solusi yang tepat. Melainkan tentang memberikan ruang pada diri sendiri untuk merasakan apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita. Kadang-kadang, cukup dengan merasakan rasa itu, kita bisa menemukan kedamaian atau pemahaman yang kita cari.
Tidak hanya cinta, emosi lain seperti kegembiraan, kesedihan, kemarahan, dan ketakutan, semuanya memiliki tempat yang penting dalam kehidupan kita. Mereka adalah penanda yang memberi tahu kita tentang apa yang penting bagi kita, dan seringkali, mereka juga menjadi cermin dari siapa kita sebenarnya.
Rasa cinta, misalnya, adalah salah satu rasa yang paling kuat dan paling membingungkan. Ketika kita jatuh cinta, segalanya terasa berbeda. Dunia terasa lebih cerah, dan kita merasa bisa menghadapi segala tantangan. Namun, cinta juga bisa membawa penderitaan yang mendalam. Ketika cinta berakhir, kita merasa hancur dan kehilangan arah.
Bagaimana kita mengelola emosi-emosi ini juga sangat penting. Ketika kita merasa terlalu tertekan atau terlalu cemas, ini dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental kita. Oleh karena itu, penting untuk menemukan cara untuk meredakan stres dan mengelola emosi dengan baik.
Salah satu cara untuk mengelola emosi adalah dengan berbicara dengan orang yang kita percayai. Dengan berbagi perasaan kita, kita bisa merasa lebih lega dan mendapat pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita sendiri. Selain itu, aktivitas kreatif seperti lukisan, menulis, atau musik juga dapat menjadi cara yang baik untuk mengungkapkan dan mengelola emosi-emosi yang kita rasakan.
Dengan menggali kedalaman sebuah rasa, kita tidak hanya memahami diri kita sendiri dengan lebih baik, tetapi juga membuka diri pada pengalaman-pengalaman baru yang mungkin tidak pernah kita sadari sebelumnya. Dan di balik setiap rasa yang muncul, tersembunyi pelajaran berharga yang dapat membimbing kita dalam menjalani kehidupan dengan lebih berarti.
Jadi, mari kita hargai setiap rasa yang muncul dalam diri kita. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, yang memberi warna pada setiap langkah kita. Dengan menghargai dan memahami rasa-rasa ini, kita dapat menjalani hidup dengan lebih penuh makna dan kebahagiaan.
Nats, ay 29 : Kata Yesus kepadanya: ” Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Saudaraku yang di kasihi oleh tuhan kita Yesus Kristus, merujuk thema renungan kita pada Minggu hari ini, yaitu ” merasakan dan mengalami kehadiran Tuhan dalam hidup “.
Sebagai ciptaan tuhan yang paling sempurna, kita manusia ini telah di bekali oleh Tuhan, salah satunya dengan panca indra, yaitu :
1. Mata
2. Hidung.
3. Telinga.
4. Lidah.
5. Kulit.
Kelima panca indra kita ini mempunyai tugas masing masing sesuai dengan tupoksinya. Salah satunya, mata untuk melihat, hidung untuk mencium, telinga untuk mendengar, lidah untuk mngecap atau mencicipi, sedangkan kulit untuk merasa. Kemudian yang paling sensitif dari kelima indra kita itu yaitu kulit Bapak dan ibu, kulit itu sungguh sangat peka, dia bisa merasakan sesuatu yang tidak bisa kita lihat secara kasad mata, sungguh sensitif kulit ini dan sangat sangat peka sekali. Biasanya, apa yang dirasakan kulit, itu sangat berdampak langsung pada diri sendiri. Contoh : dikala kulit tersentuh air panas wajah kita akan langsung terekspresi kesakitan begitu juga ketika kita berjalan sendirian di gelapnya malam, kita merasa takut dan itu biasanya langsung reaksi kulit kita merinding dan wajah kelihatan pucat karena menahan rasa takut yang berlebihan. Jadi dengan demikian, apa yang di rasa kulit itu, secara tidak langsung bisa di lihat secara kasad mata. Jelasnya saudara, kulit bisa merasakan sesuatu yang tidak kelihatan atau sesuatu yang tidak kasad mata akan tetapi hasil dari apa yang dirasakan kulit itu bisa di lihat secara kasad mata.
Umat Tuhan yang berbahagia, saat ini kita berbicara suatu thema yang luarbiasa, yaitu ” Merasakan dan mengalami kehadiran Tuhan dalam hidup “.
Tuhan Allah menghendaki agar setiap orang yang mengaku percaya pada Yesus, adalah orang yang benar benar mampu dan bisa merasakan dan mengalami kehadiran Tuhan dalam hidupnya…. akan tetapi pada kenyataan di dunia ini, banyak orang yang mengaku percaya pada Yesus, beriman pada yesus tetapi hidup dan prilakunya tidak sama sekali mencerminkan prilaku hadirnya Tuhan dalam hidupnya….
Saudara,……. Dalam kenyataan hidup, orang kristen adalah yang percaya pada Yesus sebagai Tuhan dan juru slamat…. Karena sungguh aneh kalau orang kristen tidak percaya pada Yesus, dunia akan ketawa….. Yang lebih aneh lagi bapak dan ibu, dan yang sering kita lihat dan jumpai dalam hidup,.. yaitu banyak orang kristen yang hidupnya masih banyak ada dalam tekanan duniawi,..banyak orang kristen suka marah, suka dendam, egois, merasa dirinya paling benar, bahkan juga merasa diri nya paling suci dibanding yang lain. Sikap manusia yang semacam ini jelas tidak dikehendaki oleh Tuhan. Orang yang misih suka marah, dendam, iri dengki, egois, sombong dan semacamnya adalah orang orang yang belum bisa merasakan dan menghadirkan Tuhan dalam hidupnya….
Selanjutnya bapak dan ibu bagaimana sekarang, agar kita sebagai anak anak Allah, agar kita benar benar mampu dan bisa merasakan hadirnya Tuhan dalam hidup,…apa yang harus kita lakukan,.. sesuai dengan thema kita di atas tadi tentu pertama yang harus kita lakukan adalah, menumbuh kembangkan rasa yang ada di dalam diri kita, rasa itu penting dalam hidup ini, karena tanpa rasa kita tidak bisa merasakan bagaimana rasanya hidup…..
Rasa adalah bahasa yang paling universal dan paling pribadi. Setiap orang memiliki rasa yang berbeda-beda, meskipun berasal dari pengalaman yang sama. Rasa dapat muncul dari apa yang kita lihat, dengar, sentuh, atau alami.
Manusia itu mempunyai banyak rasa, bapak dan ibu, diantaranya diantaranya yaitu rasa cemburu, rasa iri dan dengki, rasa dendam rasa cinta dan juga rasa syukur,… Jadi disini kita harus mempunyai suatu keberanian untuk membuang dan memendam sedalam dalamnya, rasa rasa yang tidak berkenan di depan Tuhan, dan menumbuh kembangkan rasa yg berkenan di depan Tuhan, yaitu rasa syukur, karena hanya dengan rasa syukur kita bisa berdamai dengan Tuhan, hanya dengan rasa bersyukur kita bisa berdamai dengan diri kita sendiri. Dan dengan rasa syukur, tidak terasa kebahagiaan dalam hidup ini bertumbuh, dengan rasa syukur berarti kita telah merasakan dan mengalami kehadiran Tuhan dalam hidup.
Sidang jemaat di yang diberkati tuhan, firman sekaligus yang menjadi nats kita hari ini mengatakan : “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Pesan ini disampaikan Tuhan Yesus kepada Kita hari ini, kita memang tidak melihat Tuhan Yesus di salibkan, mati dan dikuburkan. kita tidak melihat kebangkitan-Nya saat itu, namun kita telah mendengar dan membacanya dari apa yang tertulis di dalam Alkitab. Karena Alkitab itu adalah merupakan falsafah, dasar dan pandangan hidup anak anak Allah. Percayalah saudaraku semua, Roh Kudus akan terus menuntun dan membuka hati kita melalui firmanNya, untuk percaya kepada Kristus yang telah bangkit. Karya Roh Kudus dan firman-Nya saat ini lebih dari cukup untuk kita memercayai bahwa Tuhan Yesus hadir dalam hidup kita.
Dan oleh karena kehadiran-Nya itulah, kita dapat menghadapi setiap kesulitan yang kita temui serta tetap dapat berdiri dengan teguh menjadi pemenang di atas gelombang kehidupan yang terjal.
Saudaraku terkasih, kiranya melalui sedikit renungan firman Tuhan hari ini, benar benar mampu membuat kita semakin teguh dan kokoh dalam menghadapi terjalnya kehidupan, Tuhan Yesus memberkati.Amien
Kala itu kurang lebih tahun 1853-1885 Kala itu orang-orang kristen Ngoro dan Kertorejo dalam melaksanakan ibadah Minggu menjadi satu yaitu di Gereja Ngoro, terlebih sejak datangnya Pendeta Jellesma dari Mojowarno membabtis mereka jadi satu di Gereja Ngoro. Akan tetapi ketika perkembangan Jemaat Ngoro kala itu kurang baik dan ibadah minggunya juga mengalami persoalan (tidak dilaksanakan) semua berdampak terhadap keadaan orang kristen di Kertorejo, yang kala itu mereka juga tidak pernah mengikuti ibadah minggu. Karena iman dan kepercayaan mereka terhadap Tuhan sangatlah kuat sehingga tidak lama kemudian mereka mengadakan perkumpulan/ibadah sendiri yaitu di rumah salah satu warga yang bernama Kyai Samuel dan yang melayani pertama kali kala itu ialah salah satu warga yang dianggapnya lebih dituakan. Pada awalnya mereka hanya berdoa dan membaca Alkitab sambil terus bermusyawarah mengenai hal-hal yang dianggapnya baik buat perkembangan iman dan persekutuan mereka bersama. Tidak lanma kemudian hal ini di ketahui oleh Pendeta Mojowarno (Pdt. J.E. Jellesma) dan Beliau sangat mengapresiasi sekali sehingga Beliau menyuruh utusan untuk melayani ke Kertorejo secara bergantian, diantaranya yaitu Kyai Paulus, Bernandus, Bertus, Lionar, Suleman, Asah, Yapet, dan Kyai Matadius, sedangkan Warga yang datang beribadah kala itu kurang lebih hanya 20 orang. Setelah berjalan cukup lama akhirnya Pdt. J.E. Jellesma menetapkan Kyai Lionar menjadi Pelayan tetap pertama di Kertorejo tahun 1855. setelah kurang lebih 1 tahun Kyai Lionar bertugas di Kertorejo dan warga seakin merasakan bahwa karakter Kyai Lionar sangatlah keras sekali warga kurang bisa menerima hal itu, lalu mereka mengajukan permohonan kepada Pendeta Mojowarno agar Kyai Lionar di tarik dan meminta agar di ganti oleh Kyai Sesam karena warga tahu bahwa Kyai Sesam itu berasal dari Kertorejo, akhinya permohonan itu di setujui oleh Pendeta Mojowarno dan kemudian ditetapkanlah Kyai Sesam menjadi Pelayan di Kertorejo pada tahun 1856 menggantikan Kyai Lionar. Pertama kali Kyai Sesam melayani di Kertorejo, tempat Ibadahnya masih seperti sebelumnya yaitu bertempat di rumah Kyai Samuel, meskipun waktu itu Kyai Sesam sudah mempunyai tempat sendiri ng cukup luas dan cukup dana pula untuk membangun sebuah Gereja. Tidak lama kemudian Gereja dibangun secara gotong royong meskipun idak besar, diperkirakan hanya muat kurang lebih tiga puluh orang. Gereja dirikan di tanah milik Kyai Sesam sendiri yaitu sebelah selatan barat rumah dekat jalan raya. Lama kelamaan perkembangan Waga Jemaat Kertorejo semakin menunjukan suatu perkembangan yang sangat menggembirakan, ditunjukan dengan Gereja yang semakin hari semakin penuh sesak ini membuktikan bahwa Warga semakin bertambah. Karena itu mereka bermusyawarah untuk bersama sama membangun Gereja di atas tanah sendiri yang agak besar daripada sebelumnya agar semua Warga bisa tertampung di dalam Gereja, kebetulan waktu itu ada tanah kosong bckas kandang kerbau, tempatnya mapan di pinggir jalan raya atau tepatnya disebelah timur jalan raya, disitulah tanah yang dipilih oleh Warga Jema’at untuk membangun sebuah Gereja dan di tetapkanlah sebagai tanah milik Gereja hingga sampai saat ini.
Tahun 1887-1888 Karena tuntutan zaman Gereja yang baru dibangun itu umurnya juga tidak panjang karena hampir semua bahannya terbuat dari bambu sehungga mudah di makan ngengat melihat kondisi yang seperti ini akhirnya Warga bermusyawarah kembali untuk membangun Gereja yang lebih baik lagi, akhirnya pada tahun 1887 Gereja dibongkar dan membangunnya kembali yang tentu lebih besar lagi, di perkirakan muat kurang lebih 200 orang dan bahan bangunannya semua berasal dari kayu jati. Melihat hal seperti ini Warga sedikit mengalami kebingungan sehingga mendapatkan perhatian dari Pendeta caranya Mojowarno, kemudian mereka bermusyawarah bagaimana membangun Gereja kembali yang tentu lebih besar baik dan kuat, keputusan mereka Gereja harus di bangun dan semua bahan bangunan harus berasal dari kayu jati yang sudah tua agar tidak mudah rusak. Tidak lama kemudian Kyai Sesam membuka uang tabungan, ketika beliau masih melayani di Jemaat Ngoro (+ tahun 1865 – 1886) dan tabungan itu disimpan didalam bambu besar ditaruh di rumahnya Kyai Artinah selaku Tetua Jemaat Ngoro. Semua itu di saksikan oleh Tetua Jemaat Kertorejo, banyaknya tabungan Rp.100 (seratus rupiah) begitu juga dengan tabungan yang berasal dari Jemaat Kertorejo semua itu dikumpulkan jadi satu untuk pembiayaan kemudian di setorkan ke Pendeta Mojowarno guna untuk pembiyayaan pembangunan Gereja di Kertorejo. Demi kelancaran pembanguan Gereja, Warga Jemaat berbagi tugas, dan kala itu Warga Jemaat saling bahu membahu antara Warga Kertorejo dan Warga Ngoro, diantara mereka pergi keb untuk menebang dan membalok kayu jati atas ijin pemerintah. Dari le Kertorejo dipimpin oleh Guru injil Iprayim/Kyai Iprayim sedangkan dari Jemaat Ngoro oleh Guru Injil Sesam/Kyai Sesam. Note: Setelah semuanya bahan pembuatan Gereja sudah siap termasuk kayu iuga sudah dibawa ke Kertorejo dari Mojowarno, baru warga menentukan hari peletakan batu pertama dan jatuh pada tanggal 20 September 1887, pembangunan Gereja memang berjalan agak lambat tidak selesai dalam jangka waktu satu tahun. Itu semua di karenakan salah satunya ialah tempat/tanah yang di tempati untuk membangun Gereja sangat rendah. Lama menanti akhirnya Warga Jemaat Kertorejo bisa menikmati hasil jerih payahnya selama ini, yaitu dengan diselesaikannya pembangunan Gereja yang cukup apik dan besar. Warga sangat senang dengan selesainya pembangunan Gereja lalu mereka bermusyawarah kembali untuk menentukan hari kapan Gereja disucikan dan diresmikan, akhirnya tanggal 30 Desember 1888 dipilihlah oleh warga sebagai tanggal penyucian atau pentabisan dan peresmian Gereja.
Catatan :
* Pada tahun 1853 adalah awal terbentuknya persekutuan kristen di desa kertorejo.
* dan di perkirakan pada tahun 1888, awal berdirinya gedung gereja di desa kertorejo.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.