Khotba ibadah minggu, 03 April 2022 (06.00)
Keseimbangan Hidup
Bacaan Yohanes 12 : 1 – 8
Shalom sidang jemaat yang di kasihi Tuhan dan mengasihi Tuhan. Kalau kita rasa rasakan, Segala aspek kehidupan tentunya memiliki dua sisi. Yaitu, Baik, buruk; bagus, jelek; tinggi, pendek, dermawan, pelit, dan sebagainya, dan hal itu berjalan beriringan sejalan dengan kehidupan didunia ini. Demikian juga kehidupan kita, sebagai orang – orang percaya, dimana terdapat dimensi jasmani dan roami didalam kehidupan kita, dimana dimensi ini berjalan beriringan untuk menjadi satu kesatuan. Namun pada kenyataan yang ada, dimensi jasmani dan rohani, ini tidak mampu untuk berjalan secara beriringan, tidak mampu menyatu didalam kehidupan kia. Sehingga memungkinkan kita hanya fokus kedalam kehidupan jasmani saja atau fokus pada dimensi jasmani, dimensi lahiriah saja.
Saudaraku semua yang di kasihi Tuhan, Dimensi jasmani atau dimensi lahiriah adalah suatu dimensi yang berbicara tentang kehidupan keseharian kita, yang sangat bergantung pada tindakan diri kita sebagai manusi. Pokonya hanya mengandalkan kekuatan dirinya, kekuatan manusia, sehingga kita tidak mampu untuk mensyukuri, menikmati kebaikan Tuhan, berkat Tuhan didalam kehidupan keseharian kita. Berkat Tuhan hanya di ukur dan di pandangan, dalam pandangan jasmani saja, atau pandangan lahirialah saja.
Dalam bacaan kita pagi hari ini, menceritakan tentang peristiwa pengurapan kaki Yesus yang dilakukan oleh Maria menggunakan minyak Narwastu dan adegan-adegan yang ditunjulan oleh penulis Injil Yohanes. Bacaan pada pagi hari ini juga menolong kita untuk, setidaknya membedakan bagaimanakah gambaran seseorang yang hidupnya hanya berfokus pada dimensi jasmani/ lahiriah dan seseorang yang mampu menyeimbangkan antar keduanya.
Sidang jemaat yang berbahagia, Sebagai gambaran awal kita tentang Narwastu, Menurut KBBI: Narwastu (nar·was·tu) n 1. akar wangi; serai wangi; 2. bau-bauan yg dibuat dr akar wangi. Dalam Kamus Alkitab : Narwastu = Sejenis bau-bauan yang dibuat dari akar serai wangi (Kid.1:12; 4:13-14; Mark.14:3; Yoh.12:3).
Kemudian, Pada zaman Yesus, minyak narwastu biasanya ditempatkan dalam buli-buli berdiameter 10 -12 cm dan tinggi buli-bulinya sekitar 8-10 cm. Mulut buli-bulinya cukup kecil karena biasanya dipakai sedikit saja dan sudah semerbak baunya. Pada zaman itu minyak narwastu adalah wewangian yang mahal dan biasanya di import dari India. La hal yang demikian ini, Maria tentu sangat mengetahui bahwa minyak Narwastu yang akan dia pergunakan untuk meminyaki kaki Yesus memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Jika Maria adalah seseorang yang hanya berfokus pada perkara lahiriah, dimana dia memperhitungkan nilai ekonomis dan nilai manfaat atas apa yang akan diperbuatnya kepada Tuhan Yesus, barangkali dia akan mengurungkan tindakannya itu. Akan tetapi, karena Maria telah mencapai keseimbangan diri, maka dia tidak lagi menilai apa yang dilakukannya kepada Yesus itu sebagai bentuk pemborosan atau sesuatu yang tidak berguna untuk dilakukan. Juga karena pencapaian keseimbangan itu, Maria mampu menyadari cinta kasih Tuhan Yesus dan berupaya untuk mewujudkan sikap mengasihi Tuhan dengan keseluruhan hidupnya. Tidak hanya minyak Narwastu yang mahal harganya itu yang dia berikan, bahkan harga diri sebagai seorang wanita yang hidup dalam budaya Yahudi seutuhnya pun dia tanggalkan dengan membuka penutup kepalanya – meminyaki kaki Yesus menggunakan rambutnya. Hal ini bukanlah kejadian yang biasa dan pada masa itu bisa dianggap tidak pantas, karena wanita umumnya tampil dengan bertudung/berkerudung, dan melepas/mengurai rambutnya hanya dilakukan di dalam kamar mereka. Melepas rambut di depan umum seperti yang Maria lakukan dan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya adalah suatu tindakan kasih dan luar biasa yang tidak lazim dilakukan.
Peristiwa meminyaki kaki Yesus dan menyeka dengan rambut tersebut, tentu saja menimbulkan berbagai reaksi. Mengingat bahwa wanita hanya hadir sebagai pelayan dan tidak ikut makan bersama, maka pada saat perjamuan itu tentulah semuanya hanya laki-laki. Berbagai rasa tentu timbul … ada yang jengah dan malu karena terkejut melihat Maria melepas dan mengurai rambutnya, tetapi ada juga yang iri. Murid-murid yang menyaksikan peristiwa tersebut mereka merasa gusar. Gusar karena dunia lelaki mereka terusik oleh Maria yang mempertontonkan penyembahan, pengorbanan dan pengagungan luar biasa terhadap Yesus, sementara mereka tidak mampu mengekspresikan hal seperti itu. Jengah? ya, malu? ya, terkejut? ya … tetapi iri?
Saudaraku terkasih, kita tahu Yudas Iskariot to , salah seorang murid yang juga menjadi salah satu tamu dalam perjamuan tersebut. Yudas tidak dapat mencerna dan memahami dengan baik apa yang dilakukan Maria terhadap Tuhan Yesus dihadapannya, dia hanya berfokus pada sisi lahiriahnya saja. Dia menilai apa yang dilakukan oleh Maria adalah suatu tindakan pemborosan yang tidak berguna dan tidak perlu dilakukan. Dia beralasan bahwa minyak Narwastu yang memiliki harga mahal tersebut bisa diuangkan dan uangnya bisa dibagi-bagikan kepada orang yang membutuhkan. Sekalipun dasar pemikiran yang disampaikan Yudas adalah sesuatu yang nampaknya pantas untuk dipikirkan, tetapi karena seorang Yudas yang menyampaikan, maka kita pun pantas curiga, apakah pertimbangan yang Yudas sampaikan itu benar-benar bersumber dari ketulusan hatinya?
Bapak ibu yang terkkasih, Menjalani cara hidup dan cara pandang yang seimbang antara jasmani dan rohani bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan, butuh usaha dan perjuangan yang keras untuk bisa mencapai titik itu. Sebagaimana apa yang telah disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, bahwa dia sendiri juga mengakui jika dirinya belumlah sampai pada titik itu dan masih dalam situasi pertandingan atau perjuangan. Perjuangan untuk mencapai titik keseimbangan mungkin adalah proses seumur hidup. Tetapi jika kita mau tetap setia untuk berjuang, maka kita akan dimampukan untuk menjadi orang yang dipenuhi hikmat dan kebijaksanaan.
Dengan berjuang untuk mencapai titik keseimbangan itu pula, kita akan dimampukan untuk tidak hanya melihat berkat-berkat Tuhan dari segi lahiriah (materi) saja. Bahkan dalam kondisi semenderita dan terpuruk apapun, kita akan tetap mampu melihat wujud berkat Tuhan. Sebagaimana ajakan Nabi Yesaya kepada orang-orang Israel agar tetap mengingat segala kebaikan Allah yang telah dicurahkan pada bangsanya, percaya pada janji-janji yang diadakan Allah bagi bangsanya.
Selanjutnya Saudaraku semua yang di kasihi Tuhan, untuk mencapai sebuah titik keseimbangan yang sempurna dalam kehidupan kita, yaitu antara kebutuhan rohani dan jasmani, itu sangat di perlukan suatu pengorbanan, salah satunya, untuk bisa membiasakan bertirakat, sedikit menekan kebutuhan jasmani yang kenyataannya memang porsinya terlalu banyak di bandingkan dg kebutuhan rohani kita, oleh karena itu, Saudaraku terkasih, saat ini adalah suatu kesempatan yang baik, bagi kita untuk bertirakat, untuk bisa menghayati, peristiwa paskah, yang sebentar lagi kita peringati. Tirakat, bapak dan ibu, adalah salah satu tindakan yang perlu kita lakukan, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan agar tirakat itu boleh menjadi salah satu jalan berkat buat kehidupan kita bersama, baik itu hidup antar sesama, hidup ber negara, bergereja, marilah semuanya kita lakukan dg tulus dan ikhlas, akhirnya, perkenankan kami ucapkan selamat menghayati Minggu Minggu paskah kita dg setia agar kita bisa mencapai pada titik keseimbangan yang di kehendaki oleh Tuhan. Tuhan yesus memberkati. Amien.

By : Sudarmajitudeyang

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.