Bacaan : Lukas 13 : 1 – 9
Shalom bagi kita semua yang di kasihi dan mengasihi Tuhun. Apa yang yang terlintas di dalam pikiran kita, atau apa yang kita pikirkan ketika kita melihat, atau mengetahui suatu tragedi atau pristiwa. Misalnya bencana alam, kecelakaan, kemalingan, gagal membangun bahtera rumah tangga, gagal dalam dunia pekerjaan, gagal dalam percintaan, gagal dalam dunia pendidikan? Apa yang terlintas dan apa yang kita pikirkan mengenai kejadian tersebut? . . . . . tentunya ada sebagain orang berfikir itu merupakan karma, hukuman dari Tuhan atas perbuatan dan pelanggaran yang di lakukan, Pandangan seperti ini sudah ada pada zaman dulu. Manusia lebih suka untuk menghakimi orang lain dari pada melihat dirinya sendiri, seolah – olah dirinya paling benar, paling suci.
Bacaan kita pada siang hari ini juga demikian, Pada zaman itu ada pandangan yang umum yang menyatakan bahwa orang benar/saleh pasti akan diberkati Tuhan, sehingga akan selamat dan baik-baik saja. Sehingga kalau seseorang terkena bencana yang hebat, apalagi mengalami kematian yang mengerikan, itu membuktikan bahwa Tuhan tidak berkenan akan hidup orang itu dan karena itu Tuhan memberikan bencana/kematian itu sebagai hukuman.
Ada dua peristiwa naas yang disebutkan, Peristiwa pertama menyangkut sekelompok orang Galilea yang dibantai di pelataran Bait Allah sewaktu mereka telah membawa persembahan. Mereka disangka “pendosa” kemungkinan karena mereka menunjukkan (atau dianggap menunjukkan) pemberontakan terhadap para penguasa di Yerusalem pada saat itu sehingga langsung ditindak Pilatus. Yesus tidak menyangkal kalau mereka adalah pendosa, tetapi Dia menegaskan bahwa angkatan yang sesat yang Dia hadapi tidak berbeda. Tinggal waktu (kurang lebih 40 tahun) dan mereka akan mengalami nasib yang sama (penduduk Yerusalem dibantai oleh tentara Romawi) oleh karena mereka tidak siap berdamai dengan musuh. Peristiwa kedua merupakan kecelakaan, dan kedelapanbelas korbannya disangka “pengutang”, yaitu kena sanksi dari Allah karena berbuat salah. Tetapi nasib yang sama menunggu semua penduduk Yerusalem 40 tahun kemudian, ketika Yerusalem dirubuhkan oleh tentara Romawi.
Kemudian, Yesus mengibaratkan keadaan Israel sebagai pohon ara yang sudah terlambat berbuah. Pemilik kebun siap menebangnya karena tidak berguna, tetapi pengurus kebun anggur menawarkan untuk berusaha satu tahun lagi. Kurang lebih, Allah adalah pemilik kebun, Yesus pengurusnya, dan pelayanan Yesus untuk membawa Israel kepada pertobatan adalah usaha terakhir supaya Israel berbuah. “kurang lebih” bisa diartikan ada percakapan antara pemilik dan pengurus kebun bisa saja ditafsir seakan-akan Yesus tidak sepandangan dengan Allah. Yang disampaikan dalam percakapan itu adalah kedua segi dari pertimbangan Allah, Bapa dan Anak: hukuman dibutuhkan, tetapi jalan keluar tetap mau ditawarkan. Daripada menghakimi sesama yang dilanda musibah, orang Israel semestinya melihat musibah itu sebagai peringatan untuk mereka sendiri bertobat. Pertobatan itu berarti mengikuti Yesus. Mengikuti Yesus berarti hidup dalam kasih bahkan kepada musuh, yaitu dengan kasih seperti yang akan diperlihatkan di salib.
Perikop ini bercerita tentang hukuman Allah yang ditunda supaya manusia bisa bertobat. Bertobat berarti menerima pemberitaan Yesus yang memampukan kita untuk berbuah. Jadi, kita diajak untuk bertobat. Tidak hanya sekedar bertobat, kita diajak untuk berperan sama seperti Yesus dalam mempersiapkan umat Allah menerima Injil supaya berbuah.
Berbicara tentang hukuman Allah yang di tunda berarti berbicara saol waktu, Dalam Yes 53:6 dikatakan, “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui”. Ketika hukuman terjadi, sudah terlambat mencari Tuhan. Kemudian orang yang mengatakan, “nanti saja saya bertobat” biasanya tidak sempat bertobat bahkan ketika menghadapi ajal hidupnya.
Dalam Yes 55:1–9 menjelaskan pertobatan yang sejati. Pertobatan itu mulai dengan merindukan keselamatan dari Allah, sebagai hal yang akan memuaskan jiwa. Dengan keinginan demikian, orang akan ingin meninggalkan jalan fasiknya (55:7). Jalan orang fasik berati, berbicara tentang keingian duniawi, ke inginan daging. Dalam surat rasul paulus kepada jemaat di Korintus, hal – hal dunia inilah yang menuntun kita keluar dari jalan keselamatan. Makanya, didalam bacaan kita pada siang hari ini, injil Lukas berbicara tentang perjalanan ke Yerusalem tadi, dimulai dengan tantangan untuk mengingini Yesus di atas segalanya. Hal itu adalah dasar dari pertobatan. Cara hidup yang diajarkan memberi wujud nyata dari pertobatan itu.
Dalam kepercayaan lama, musibah dilihat sebagai akibat pelanggaran. Yesus menerima bahwa dosa ada akibatnya, tetapi pemahaman-Nya berbeda dalam dua hal. Yang pertama, musibah itu pertanda akan musibah yang lebih dahsyat (misalnya, hukuman atas Yerusalem, hukuman kekal), dan musibah itu peringatan bagi semua orang yang melihatnya, bukan hanya bagi yang langsung menjadi korban.
Sidang jemaat yang di kasihi eleh Tuhan, pada dasarnya setiap orang tidak akan lepas dari hukuman, sesuai dengan, dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan dalam hidup di dunia ini. Akan tetapi sebelum hukuman itu terjadi, kita masih di beri kesempatan olehTuhan untuk memperbaiki hidup, dengan cara bertobat.
Kita semua ini ibarat pohon anggur yang sudah bertahun tahun di pelihara dengan harapan agar bisa berbuah lebat, dan memuaskan bagi pemiliknya, Akan tetapi harapan itu tinggal harapan, dan buahnya pun juga hanya sebatas angan anagan. Arti nya buah anggur tersebut tidak sama sekali berbuah. Karena mendapati kebun anggurnya tidak berbuah, saudaraku, pemilik kebun itu memerintahkan kepada tukang kebun, untuk menebangnya, karena di anggapnya sudah tak berguna lagi. Apa yang terjadi saudaraku, dg rendah hati, si tukang kebun itu, memohon agar untuk sementara waktu jangan di tebang dulu, biar ku pelihara lagi, siapa tahu tahun depan berbuah, dan apa bila ternyata tdk berbuah silahkan di tebang, dan di musnahkan.
Dengan jelas saudaraku semua, bahwa gambaran di atas menunjukan bahwa Allah Bapa adalah samg pemilik kebun anggur, Yesus Kristus Tuham kita adalah si tukang kebun sedangkan kita adalah kebun anggur. Dalam hal ini sebagai kebun anggur kita masih di beri kesempatan agar kita bisa berbuah lebih baik lagi tahun berikutnya sebelum hukuman itu datang. Karena itu sebagai tukang kebun Tuhan yesus dengan sabar dan sangat rendah hati memohon dan berharap agar kita bisa berbuah dan terhindar dari gukuman Allah.
Sidang jemaat yg berbahagia, agar kita bisa berbuah baik, hanya satu jalan yang harus kita pilih dan lalui, yaitu bertobat, bertobat berarti Kita mengakui memang selama ini kita kurang baik dalam berbuah. bertobat berarti kita harus menyerahkan sepenuhnya hidup ini hanya pada si Tukang kebung anggur tadi, yaitu Tuhan kita yesus kristus. Menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan yesus berati kita siap untuk di bentuk menjadi lebih baik lagi oleh Tuhan. Menjadi orang yang siap dibentuk, untuk bisa berbuah dengan baik, pertama yang harus kita lakukan yaitu, munumbuhkembangan benih kasih yang sudah ada di dalam hidup kita, yang selama ini terpendam dan tak menghasilkan apa apa, dan apa bila kasih itu sudah tumbuh di dalam hidup kita, marilah kita rawat, kita jaga pelihara, agar bisa berbuah lebat dan menyenangkan Allah, dan apa bila sudah berbuah biarkanlah buah itu bisa menjadi berkat juga bagi sesama yang membutuhkan. Selanjutnya, apa bila hidup ini sudah berbuah baik juga bisa menjadi berkat bagi sesama, percayalah Allah bapa yang di soraga pasti melepaskan kita dari hukumannya dan memberi kita kemenangan dan kemerdekaan, kalau sudah demikian, kita akan hidup penuh dengan kelimpahan berkat, kita akan hidup suka cita dan damai sejahtera. Karena tuhan akan terus dan tak putus untuk memberkati kita semua. Tuhan yesus memberkati. Amien.

By : Sudarmajitudeyang.

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.