Kotbah, ibadah Minggu 20 Februari 2022 Lukas 10:27 (TB) dengan thema “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” ( Lukas 10:27 )
Bacaan hari ini terambil dari
Lukas 6 : 27 – 38
” memuliakan Tuhan “
Shalom bapak ibu serta saudara yang dikasihi Tuhan. Ada sebuh cerita dimana seoang guru sekolah minggu bertanya kepada anak – anak sekolah minggu. Bagaimana caranya kita dapat memulaikan Tuhan? Ada anak yang menjawab rajin berdoa, rajin ke Gereja, persembahan, mendengarkan firman Tuhan. Setelah mendengar jawaban anak – anak sekolah minggu, sang guru kembali bertanya. Kalau membantu orang menyebrang jalan, berbagi makanan dengan teman, membantu orang yang lagi kesusahan, taat kepada orang tau, itu termauk memulaikan Tuhan tidak? Berfikir lama dan mereka menjawab ia.
Hal – hal yang disebutkan oleh anak – anak tidaklah sepenunya keliru, karena itu juga bagian dari memuliakan Tuhan. Namun untuk memuliakan Tuhan tidaklah cukup hanya dengan rajin ke Gereja, rajin mengikuti persekutuan, rajin mengikuti setiap ibadah yang ada, tidaklah hanya sebatas hal – hal yang bersifat ritualistik saja. Tetapi kenyataan yang ada tidak sedikit orang yang memahami memulikan Tuhan dengan hal – hal demikian.
Syukur bagi kita yang mengasihi Tuhan. Dalam cerita Yusuf, dapat kita lihat refleksi pengalaman hidup yang dialaminya, merupakan hal yang penting untuk dilihat sebagai dasar seseorang untuk memuliakan Tuhan. Yusuf dilemparkan ke dalam sumur yang kering, dijual ke negeri asing sebagai budak oleh saudara-saudaranya sendiri. Di Mesir nasibnya pun naas karena difitnah dan dipenjara. Penderitaan dan kesusahan yang diakibatkan oleh para saudaranya, sebenarnya dapat dijadikan alasan yang kuat bagi Yusuf untuk membenci dan marah kepada mereka. Namun semuanya itu tidak dilakukannya. Bahkan, ketika para saudaranya datang ke Mesir guna mencari persediaan makanan – karena di Kanaan terjadi bencana kelaparan yang amat sangat – Yusuf menerima mereka dengan penuh kehangatan. Hal tersebut ia lakukan dengan cara memperkenalkan dirinya kepada para saudaranya, yang sebenarnya sudah tidak mengenali dirinya, yaitu orang yang pernah mereka jual kepada saudagar dari Midian yang sedang melakukan perjalanan ke Mesir (Kej. 45:3-4). Mengapa Yusuf melakukannya? Sebab Yusuf percaya bahwa penderitaan yang dialaminya – sebelum menjadi seorang penguasa di Mesir – ialah cara Allah mencintai dan menyelamatkan keluarga serta bangsanya, sehingga ia tidak marah ataupun membenci saudaranya. Sebaliknya, ia menyambut mereka dengan cinta dan kerinduan yang mendalam (Kej. 45:15).
Dalam bacaan kita pada pagi hari ini juga demikian. Yesus Kristus pun mengajarkan hal yang senada. Bagi Yesus menjalani hidup di dalam kasih kepada sesama ialah mutlak. Tidak dapat ditawar, apalagi tidak dilakukan. Bahkan, Yesus mengajarkan jikalau kasih yang diberikan kepada sesama harus didasari dengan ketulusan, tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri, tanpa batas dan tidak bersyarat. Semakin tidak masuk akal ialah tatkala apa yang diajarkan Yesus itu harus diwujudnyatakan juga kepada musuh kita. Mengapa Yesus mengajarkan sesuatu yang tidak wajar tersebut? Jawabannya jelas, sebab Allah pun telah terlebih dahulu mengasihi kita, manusia yang berdosa tanpa syarat dan tanpa batas; dan dengan alat ukur tersebut (cinta Allah yang tidak bersyarat dan tidak terbatas), maka kita diperintahkan untuk mengasihi sesama kita, tanpa terkecuali.
Saudara yang dikasihi Tuhan dan mengasihi Tuhan. Mari kita sama belajar untuk memuliakan Tuhan dengan cara mengasihi sesama kita, tanpa terkecuali, tanpa syarat dan tanpa batas. Memuliakan Tuhan berarti memelihara dan menjaga sebuah persekutuan. Berarti kita harus menghadirkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan Allah. Oleh karena itu, saat ini kita pun diajak untuk merefleksikan kembali apa motivasi dan tujuan kita beribadah. Sungguhkah dalam sebuah ibadah kita memuliakan Tuhan? Ataukah sebenarnya kita ingin memuliakan diri sendiri yang dibalut dengan kesalehan ritualistik? Dan dapatkah dikatakan bahwa ibadah yang kita lakukan ialah cara kita memuliakan Tuhan, jikalau dalam hati kita muncul sakit hati, kebencian, bahkan amarah ketika melihat/ berjumpa dengan orang yang pernah menyakiti perasaan kita saat dalam sebuah ibadah? Bukankah dengan demikian, ibadah yang kita lakukan akan menjadi hampa, kosong dan tidak bermakna karena kasih telah hilang?
Memuliakan Tuhan sebagai Pribadi (Subjek) yang tidak kelihatan memang bukanlah hal mudah dilakukan, karena setiap orang bisa saja mengatakan telah memuliakan Tuhan, padahal sesungguhnya hanya berusaha memuliakan dirinya sendiri. Akan tetapi, saat ini kita diingatkan kembali bahwa memuliakan Tuhan tidak dapat dilepaskan dari laku hidup kasih kepada sesama, tanpa terkecuali. Yaitu kasih yang tidak mementingkan diri sendiri, tidak egois, tidak bersyarat dan yang selalu berusaha memelihara dan menjaga sebuah persekutuan. Oleh karena itu saudara ku semua yang di kasihi Tuhan, marilah saat ini dengan semangat, dan tak bertendensi apapun, serta dengan hati tulus iklas, kita lakukan sesuatu yang terbaik dalam hidup ini, baik buat diri kita sendiri, baik buat sesama, buat lingkungan di sekitar kita, lebih lebih buat Tuhan. Seperti ( tema ibadah kita hari ini “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” ).
Tuhan yesus memberkati. Amien.

By : Sudarmajitudeyang.

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.