Kotbah, 06 Februari 2022
Bacaan : Lukas 5 : 1 – 11
Shalom bagi kita semua yang dikasihi Tuhan dan mengasihi Tuhan, ada sebuah fun fage, atau hal yang aneh tapi lucu yang sering kita alami. Entah selalu menjadi misteri kenapa seorang Ibu selalu mengetahui dengan mudah barang – barang yang ketika dicari setengah mati buat menemukannya, bahkan terkadang kita sampai emosi gara – gara tidak menemukan barang tersebut. Ketika saya masih menempuh pendidikan, saya sedikit sering bertanya – tanya kepada ibu, “buk dasi’ne endi, kaos kaki’ne endi” ibuk dengan santai bilang “ndok keranjang mas” ketika saya mencarinya, saya bolak – balik kerenjangnya isinya saya keluarkan semua masih tidak ketemu. Dan saya bilang sekali lagi kepada ibuk saya “endi kok buk gak onok ngunu Lo ” kemudian ibuk saya datang dan bilang dengan mudah “iki lak kaos kaki se mas, iki umpomo dadi ulo, awakmu wes di patuk”. Realita ini sering kita jumpai dalam kehidupan kita.
Bacaan kita pada pagi hari ini juga demikian, kita dapat memahami bahwa Simon dan teman – temannya yang berprofesi sebagai nelayan tentunya sudah paham betul tentang seluk beluk danau Genesaret, karena itu lahan mata pencarian mereka. Tetapi hal aneh yang terjadi ketika mereka bekerja, mencari ikan mereka tidak mendapatkan ikan satu ekor pun. Terlebih mereka sudah mencari sepanjang malam, atau semalam suntuk atau jam 18.00 – 00.00 bahkan bisa lebih, karena dalam ayat 2 menceritakan bahwa mereka sedang membasuh jalanya. Berarti kemungkinan besar mereka baru menepi, dan mau pulang untuk istirahat. Dan ketika Yesus melihat itu, Ia kemudian naik ke atas prahu Simon dan bertolak untuk mengajar mereka yang mengikut Dia. Dan setelah selesai mengajar dalam ayat 4 ini Tuhan Yesus menyuruh Simon dan kawan-kawannya untuk bertolak ke laut yang dalam untuk menebarkan jalanya.
Dalam bacaan ini kita dapat mengespresikan reaksi Simon dan teman-temannya,
Tetapi reaksi Simon Petrus yang mewakili teman-temannya: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak mendapatkan apa-apa…” ini adalah respon yang wajar bagi manusi, coba kita bayangkan sudah menjala ikan semalaman dan tidak dapat eh disuruh kembali untuk menjala. Simon dan murid-murid bukannya takut terhadap kedalaman laut, mereka para nelayan yang sudah berpengalaman. Namun masalahnya mereka sudah ke sana ke mari termasuk ke tengah laut yang dalam itu menebarkan jala, tetapi pekerjaannya sia-sia. Mereka sudah bekerja keras, memeras keringat dan otak, ke tempat yang penuh resiko dan bahaya, tetapi tidak mendapatkan apa-apa, semuanya menjadi sia-sia. Bersyukurnya, Karena mereka percaya kepada kuasa Tuhan, Simon petrus dan teman-temannya itu patuh: “… namun karena Engkau yang menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”,.
Di sini menunjukkan betapa percaya dan patuhnya Petrus dan kawan-kawannya itu kepada Tuhan Yesus. Walaupun sejak kecil mereka telah menjadi nelayan, mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang banyak, tetapi dihadapan Tuhan Yesus mereka tidak mengandalkan itu semua. Mereka berserah diri, dan perintah–Nya itu dilaksanakan, dan apa yang terjadi ternyata banyak sekali ikan yang tertangkap, hingga jala mereka koyak, akhirnya mereka meminta bantuan teman-teman dari perahu lainnya untuk membantu mereka.
Didalam kehidupan ini, kita sering kali lupa untuk mengandalkan Tuhan disetiap hal yang kita lakukan, baik itu dalam dunia pekerjaan kita, di dalam dunia pendidikan, di dalam kehidupan bermasyarakat mau pun di dalam kehidupan bergerja kita. Sering kali kita merasa bermegah diri akan kemampuan, dan hal apapun yang kita miliki, sehigga ketika ketika lelah, letih, lemah menghadapi dunia ini, menghadapi pergumulan hidup ini, kita tidak datang ke pada Tuhan, kita tidak menyerahkan kehidupan ini kepada Tuhan. Sehingga pergumulan hidup ini begitu trasa berat. Jika kita yakin dan percaya akan campur tangan Tuhan dalam setiap sendi kehidpan kita. Kita akan menerima berkat yang luar biasa dari Tuhan, dan ketika kita menerima berkat yang begitu luas biasa itu kita tidak boleh lupa akan saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesusahan.
Tuhan mempercayakan, panggilan-Nya kepada kita, dan panggilan itu merupakan kasih karunia bagi kita, karena menjadikan hidup kita berarti bagi diri sendiri, keluarga anak cucu kita, lingkungan kita, dan sesama kita, bahkan kerajaan–Nya yang kekal abadi. Di sini tidak hanya dibutuhkan keberanian, tetapi juga keterbukaan hati, kepekaan, ketulusan dan tanggap terhadap penderitaan sesama mahkluk ciptaan-Nya. Sebagaimana Rasul Paulus,
Saudaraku semua yang di kasihi oleh Tuhan berdasarkan cerita di atas kita bisa menarik kesimpulan, bahwa sekeras apapun kita bekerja dan berusaha bila tanpa campur tangan Tuhan semuanya itu akan sia dia, percayalah bahwa di hadapan Tuhan tidak ada satupun yang mustahil. semoga kasih karunia itu menjadikan kita makin bekerja keras, penuh syukur, keikhlasan, dan kesetiaan. Tuhan Yesus Memberkati saudara dan saya saat ini sampai selama lamanya, Amin


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.